Tandaglobalnews
Beijing, 14
Mei 2026 – Sebuah insiden menyayat hati dan memicu kemarahan publik beredar
luas di media sosial Tiongkok sejak akhir pekan lalu. Seorang penyandang
tunanetra ditabrak pengendara sepeda listrik saat berjalan tepat di atas jalur
pemandu khusus penyandang disabilitas di kawasan perkotaan Beijing. Alih-alih
meminta maaf atau menolong, pengendara tersebut justru bersikap kasar,
bertanya-tanya apa fungsi jalur tersebut, lalu pergi begitu saja. Video
kejadian ini langsung viral, membuat warga geram dan menuntut penghargaan hak
serta keamanan bagi penyandang disabilitas.
Berdasarkan
rekaman yang diunggah di Douyin dan dilaporkan media Bintang Merah / 红星新闻,
kejadian berlangsung beberapa hari lalu di salah satu trotoar utama di Beijing.
Dalam video terlihat jelas seorang pria tunanetra sedang berjalan perlahan
dengan bantuan tongkat putih, melangkah persis di atas jalur ubin taktil
bertekstur kasar — jalur khusus yang dirancang agar penyandang tunanetra bisa
berjalan aman dan mandiri tanpa tersesat atau terhalang.
Tiba-tiba,
seorang pengendara sepeda listrik berkecepatan sedang melintas dan menabrak
langsung ke arah pria tersebut. Korban terhuyung dan hampir jatuh karena
benturan keras. Alih-alih khawatir atau menolong, pengendara itu justru
berhenti sejenak dan berkata dengan nada tinggi, “Kamu tidak lihat jalan apa?
Kenapa berjalan sembarangan?”
Saat ada
saksi yang menegur dan mengingatkan bahwa korban sedang berjalan di jalur
khusus tunanetra, pengendara itu malah menjawab dengan nada tidak peduli dan
bingung: “Jalur tunanetra apaan? Ini kan trotoar umum, siapa saja boleh lewat,”
lalu segera mengendarai kendaraannya pergi meninggalkan lokasi.
Video ini
langsung memicu kemarahan besar warganet. Dalam hitungan jam, sudah ditonton
puluhan juta kali dan dibanjiri ribuan komentar yang mengecam perilaku
pengendara serta mengingatkan pentingnya fungsi jalur tersebut.
“Jalur tunanetra itu bukan sekadar garis atau ubin hiasan di trotoar! Itu hak hidup, jalur aman, dan satu-satunya panduan mereka berjalan mandiri. Bukan tempat parkir, bukan jalur kendaraan, bukan jalan pintas. Mengapa ada orang yang tidak paham dan seenaknya begitu?” tulis salah satu akun yang menjadi komentar teratas.
Banyak
warga juga mengungkapkan keprihatinan karena kasus ini menunjukkan masih
minimnya kesadaran masyarakat Tiongkok akan hak dan kebutuhan penyandang
disabilitas. Tak sedikit yang minta aturan ditegakkan tegas agar jalur khusus
ini benar-benar dijaga bebas dari gangguan, kendaraan, atau penghalang apa pun.
Merespons
hebohnya kasus ini, Pihak Kepolisian Kota Beijing akhirnya merilis pernyataan
resmi kemarin. Pihak berwajib menyatakan sudah menelusuri rekaman,
mengidentifikasi pelaku, dan menangani kasus ini sesuai peraturan lalu lintas
serta undang-undang perlindungan hak penyandang disabilitas.
“Kami sudah menindaklanjuti laporan dan penyelidikan. Pelaku diketahui telah dipanggil, diberi pemahaman hukum, dan akhirnya menyadari kesalahannya. Ia telah menyampaikan permintaan maaf secara langsung maupun tertulis kepada korban. Kasus ini menjadi perhatian serius kami karena berkaitan dengan keamanan dan hak kelompok rentan,” bunyi pernyataan kepolisian.
Polisi juga
menegaskan bahwa di Beijing, melintas, memarkir kendaraan, atau menghalangi
jalur pemandu tunanetra merupakan pelanggaran yang bisa dikenakan denda atau
sanksi. Pihak berwenang berjanji akan meningkatkan pengawasan dan sosialisasi
agar kejadian serupa tidak terulang.
Sementara
itu, korban dilaporkan hanya mengalami luka ringan dan syok, namun secara fisik
tidak terluka parah. Keluarga korban menyambut baik tindakan polisi namun
berharap kasus ini menjadi pelajaran luas bagi seluruh masyarakat.
Kasus ini
kembali mengingatkan bahwa fasilitas publik ramah disabilitas bukan sekadar
kewajiban pembangunan, melainkan bentuk penghargaan dan perlindungan hak asasi
manusia. Jalur tunanetra bukan sekadar ubin di trotoar, melainkan jalan aman,
kebebasan, dan kemandirian bagi mereka yang tidak bisa melihat dunia dengan
mata kepala sendiri.
Sumber:
6am.china

Posting Komentar