TandaGlobalNews | KLATEN, Rabu (6/5/2026) – Misteri penyebab keracunan massal yang menimpa ratusan siswa dan guru di Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten akhirnya terungkap. Hasil pemeriksaan laboratorium membuktikan bahwa makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disantap terkontaminasi bakteri Bacillus sp.
Bakteri ini ditemukan dalam menu yang disajikan, mulai dari telur puyuh, galantin, hingga kuah timlo. Temuan ini sekaligus menjawab pertanyaan besar publik mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Selasa, 28 April 2026 lalu.
Insiden bermula ketika para siswa dan guru di wilayah tersebut menyantap menu MBG pada jam makan siang. Menu yang disajikan saat itu adalah sop galantin lengkap dengan lauk pendamping.
Tak lama setelah mengonsumsi makanan tersebut, mulai muncul keluhan kesehatan. Sejak malam hari hingga pagi harinya, ratusan orang mulai mengalami gejala yang mirip, seperti mual, pusing, sakit perut, hingga muntah-muntah dan diare.
Salah satu orang tua siswa, Bekti (40), menceritakan kondisi anaknya yang merupakan siswa kelas VII C SMPN 1 Tulung.
"Anak saya sampai rumah itu malah tidak mau makan. Habis Maghrib mulai mual dan pusing. Meskipun tidak muntah, tapi perutnya sakit dan tidak membaik, akhirnya saya bawa ke Puskesmas Majegan," cerita Bekti kepada awak media.
Kondisi ini membuat Puskesmas dan rumah sakit di sekitar wilayah Tulung dan Kebomas kewalahan karena didatangi ratusan pasien dalam waktu bersamaan.
Setelah dilakukan penyelidikan dan pengambilan sampel makanan, Dinas Kesehatan Klaten akhirnya mendapatkan hasil resmi dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan (Labkesmas) Yogyakarta.
Kepala Dinas Kesehatan Klaten, Anggit Budiarto, membenarkan temuan tersebut.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan lab kemarin sore, sampel telur puyuh, galantin, maupun kuah timlo positif mengandung Bacillus sp," tegas Anggit.
"Jadi Bacillus sp ini penyebab gejala-gejala mual, pusing, muntah dan diare yang dialami korban," tambahnya.
Yang menjadi sorotan utama dan membuat kasus ini unik adalah karakteristik dari bakteri Bacillus sp itu sendiri. Anggit menjelaskan bahwa bakteri ini berbeda dengan bakteri E. coli yang umum dikenal.
"Bacillus sp ini berbeda dengan bakteri E. coli. Bakteri E. coli biasanya ada pada air dan jika dimasak dengan benar bisa mati. Sedangkan Bacillus sp ini bisa berproses dalam udara dan membentuk spora," jelas Anggit.
Lebih jauh dijelaskan, bakteri ini memiliki daya tahan yang sangat kuat. Bahkan, spora yang dihasilkannya tidak mudah mati meskipun makanan tersebut sudah melalui proses pemanasan atau pemasakan.
"Ketika bakteri Bacillus sp ini sudah mencemari makanan, mereka bisa meninggalkan spora. Sporanya inilah yang menimbulkan keracunan. Dan sifatnya, tidak mudah mati walau dipanaskan," ungkapnya.
Hal ini memperkuat dugaan bahwa kontaminasi kemungkinan besar sudah terjadi sejak tahap pengolahan, penyimpanan bahan baku, atau saat proses pengepakan makanan yang kurang higienis, sebelum akhirnya dimasak dan disajikan.
Kabar baik datang dari kondisi para korban. Hingga hari ini, kondisi seluruh siswa dan guru yang terdampak sudah menunjukkan perbaikan signifikan.
Kepala Puskesmas Majegan, Efy Kusumawati, memastikan tidak ada lagi pasien yang dirawat inap.
"Alhamdulillah sudah baik semua. Yang sebelumnya 9 orang dirawat inap sudah pulang. Yang terakhir pun sudah pulang hari Sabtu lalu. Sekarang sudah tidak ada yang dirawat," jelas Efy.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi pengelola program Makan Bergizi Gratis. Pemerintah daerah memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait standar kebersihan, cara pengolahan, hingga pengecekan kualitas bahan baku agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Sumber: detikcom, detikJateng, Radar Solo
#tandaglobalnews #MBG #MakanBergiziGratis #KeracunanMakanan #Klaten #BacillusSp #DinkesKlaten #BeritaJateng

Posting Komentar