Tandaglobalnews DARFUR – Sebuah serangan yang dilancarkan menggunakan pesawat tak berawak atau drone telah menghantam Kota Al-Daein, wilayah Darfur Timur, Sudan, yang saat ini berada di bawah kendali kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF). Serangan mematikan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai sejumlah warga sipil lainnya, di tengah meningkatnya intensitas pertempuran udara yang terjadi di berbagai wilayah negara Afrika itu dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan laporan yang dirilis oleh kantor berita AFP pada Selasa (12/5/2026), insiden serangan di Al-Daein ini menjadi bagian dari rangkaian serangan udara yang makin sering dilakukan oleh kedua pihak yang berkonflik, baik militer Sudan maupun pasukan RSF. Data yang dihimpun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan dampak mengerikan dari eskalasi ini: sepanjang periode Januari hingga April 2026 saja, serangan dan serangan balasan menggunakan pesawat tak berawak tersebut telah merenggut nyawa sedikitnya 880 warga sipil di seluruh Sudan.
Sumber dari kalangan medis yang bertugas di Rumah Sakit Al-Daein membenarkan bahwa pihaknya telah menerima enam jenazah pasca-serangan yang terjadi pada hari Selasa tersebut. Selain korban tewas, dilaporkan pula terdapat lima orang yang mengalami luka-luka, di mana tiga di antaranya berada dalam kondisi kritis dan membutuhkan penanganan medis intensif. Hingga saat ini, sumber medis tersebut belum dapat memastikan maupun menyebutkan secara jelas pihak mana yang bertanggung jawab melancarkan serangan udara tersebut.
Sementara itu, aliansi kekuatan yang dipimpin oleh RSF segera mengeluarkan pernyataan resmi yang menuduh militer Sudan sebagai pelaku serangan. Menurut keterangan dari pihak aliansi, serangan drone tersebut tidak hanya terjadi sesaat, melainkan dimulai sejak Senin malam dan terus berlanjut hingga pagi hari Selasa. Di sisi lain, pihak militer Sudan belum memberikan tanggapan atau klarifikasi apa pun terkait tuduhan maupun insiden serangan tersebut.
Konflik
bersenjata antara Tentara Sudan dan kelompok paramiliter RSF kini telah
memasuki tahun keempat pertempuran. Perang yang meletus akibat perselisihan
kekuasaan ini telah menyebabkan dampak kemanusiaan yang sangat parah. Puluhan
ribu orang diperkirakan telah tewas, sementara jutaan lainnya terpaksa
mengungsi, baik ke daerah-daerah yang lebih aman di dalam negeri maupun
melarikan diri ke negara tetangga. Situasi ini kemudian dinyatakan oleh PBB
sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk yang sedang terjadi di dunia
saat ini.
Sebuah kelompok advokasi hukum asal Sudan bernama *Emergency Lawyers*, yang bergerak secara khusus untuk mendokumentasikan berbagai pelanggaran hukum dan hak asasi manusia selama masa konflik, merilis data yang menguatkan betapa tingginya risiko yang dihadapi warga sipil. Dalam catatan sepuluh hari terakhir saja, kelompok ini mencatat serangan drone yang menyasar kendaraan-kendaraan warga sipil telah menewaskan sedikitnya 36 orang.
Lebih
rinci lagi, tercatat ada sembilan insiden serangan yang secara langsung
menghantam kendaraan yang sedang berjalan di jalan raya umum, di mana kendaraan
tersebut berfungsi mengangkut warga sipil, membawa bahan makanan, maupun
membawa persediaan barang-barang kebutuhan penting bagi masyarakat. Akibat
serangan-serangan tersebut, tercatat pula lebih dari 50 orang mengalami
luka-luka, serta sejumlah besar kendaraan hancur total. Wilayah-wilayah yang
terdampak meliputi kawasan Sudan Tengah, termasuk ibu kota Khartoum, Negara
Bagian Al-Jazirah dan Nil Putih, serta sebagian wilayah Kordofan hingga ke
kawasan Darfur.
Peta
pertempuran di Sudan pun terus bergeser dan meluas. Setelah pasukan RSF
berhasil menguasai El-Fasher, ibu kota wilayah Darfur Utara yang sebelumnya
menjadi benteng pertahanan terakhir militer di wilayah itu, fokus pertempuran
kini bergerak ke arah selatan. Pertempuran kini semakin intens di wilayah
Kordofan Selatan dan Negara Bagian Nil Biru, yang terletak di bagian tenggara
negara tersebut, tak jauh dari perbatasan dengan Ethiopia dan Sudan Selatan.
Perluasan wilayah konflik ini dikhawatirkan akan semakin memperparah kondisi
kemanusiaan dan menambah jumlah korban jiwa di kalangan warga sipil yang tidak
bersalah.
Sumber: detiknews

Posting Komentar