Penyerahan Penghargaan Festival Seni Sastra Siswa Nasional 2026 Digelar Meriah di Balai Bhagawanta Bhari

Awarding – Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Jenjang SMP Tahun 2026
Foto: Maulana Rahmdha (TandaGlobalNews)

 TandaGlobalNews | PARE, 12 Mei 2026 – Balai Pertemuan Bhagawanta Bhari tampak megah dan penuh warna kebudayaan hari ini. Tempat ini menjadi saksi momen puncak dari ajang bergengsi Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Jenjang SMP Tahun 2026, berlangsung acara penyerahan penghargaan bagi para pemenang yang telah berkompetisi dan menorehkan prestasi terbaik.

Rangkaian kegiatan perlombaan itu sendiri telah digelar sebelumnya, tepatnya pada 28 April 2026, dan seluruh tahapan pertandingan diselenggarakan di lingkungan SMP Negeri 2 Pare, Kabupaten Kediri. Ajang ini menjadi wadah kreativitas terbesar bagi pelajar tingkat SMP di wilayah tersebut, menghadirkan total delapan cabang lomba yang mencakup berbagai ranah seni dan sastra, yaitu: Menyanyi Solo, Menulis Cerita, Pantomim, Mendongeng, Tari, Menggambar Ilustrasi, Musik Tradisi, dan Asamble Campuran.

Suasana di dalam balai pertemuan terasa sangat meriah dan penuh semangat. Panggung utama didesain sangat indah dengan latar belakang bertema budaya nusantara, berwarna merah menyala dan emas, lengkap dengan ilustrasi beragam pertunjukan seni serta lambang negara Garuda Pancasila yang terpasang gagah di bagian atas. Tulisan besar bertuliskan "AWARDING – FESTIVAL LOMBA SENI DAN SASTRA SISWA NASIONAL (FLS3N) JENJANG SMP TAHUN 2026" menjadi penanda utama acara ini, yang juga tercantum tanggal pelaksanaan penyerahan penghargaan: 12 Mei 2026.

Ratusan hadirin memenuhi ruangan, mulai dari para peserta lomba yang tampak antusias, guru pendamping, kepala sekolah, orang tua wali, hingga para pejabat dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kediri. Mereka berkumpul untuk memberikan apresiasi dan penghormatan tertinggi bagi para siswa yang telah berjuang menampilkan bakat terbaiknya sepanjang proses lomba berlangsung sebulan lalu.

Dalam sambutan pembuka acara, perwakilan panitia penyelenggara menjelaskan bahwa festival ini bertujuan utama untuk menggali, menampung, dan mengembangkan potensi seni serta sastra para pelajar. Kegiatan ini juga menjadi bukti nyata bahwa minat dan kesadaran generasi muda terhadap kearifan lokal, budaya, dan karya cipta sastra masih sangat tinggi dan terus tumbuh berkembang, tidak tergerus oleh kemajuan teknologi.

"Delapan cabang lomba yang kami adakan mencakup seni suara, seni gerak, sastra, hingga pertunjukan kelompok. Mulai dari Menyanyi Solo yang menonjolkan kualitas vokal, Menulis Cerita dan Menggambar Ilustrasi yang mengasah imajinasi, Pantomim dan Tari yang memukau lewat gerakan, hingga Mendongeng, Musik Tradisi, dan Asamble Campuran yang kental dengan nilai budaya. Semuanya berjalan sangat kompetitif dan berkualitas saat digelar tanggal 28 April lalu di SMPN 2 Pare," ungkap perwakilan panitia.

Proses penilaian berjalan sangat ketat dan objektif yang dilakukan oleh dewan juri yang berkompeten di bidangnya masing-masing. Penilaian tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga memperhatikan orisinalitas karya, kesesuaian tema, keterampilan teknis, hingga pesan moral yang disampaikan dalam setiap penampilan atau karya.

Saat sesi penyerahan penghargaan dimulai, suasana ruangan berubah menjadi sorak sorai kebanggaan. Satu per satu nama pemenang dari setiap cabang lomba dipanggil naik ke atas panggung untuk menerima piala, piagam penghargaan, dan hadiah pembinaan. Rasa bangga terpancar dari wajah setiap siswa saat menerima apresiasi tersebut, disambut tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin yang hadir.


Dari cabang Menyanyi Solo, para peserta memukau juri dengan kualitas suara, teknik pernapasan, dan penghayatan lagu yang luar biasa. Di cabang Menulis Cerita dan Menggambar Ilustrasi, karya-karya yang masuk dinilai memiliki imajinasi tinggi, alur cerita yang kuat, serta pesan yang mendalam. Sementara itu, Pantomim dan Tari menampilkan keindahan gerak tubuh yang luwes dan ekspresif, mampu menceritakan kisah utuh tanpa kata-kata.

Di sisi lain, Mendongeng menyuguhkan kemampuan bercerita yang hidup dan memikat, sedangkan Musik Tradisi dan Asamble Campuran menjadi penanda kuatnya akar budaya, di mana peserta menampilkan permainan alat musik dan kolaborasi seni yang sangat harmonis dan indah.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri yang hadir dalam acara ini memberikan apresiasi yang tinggi terhadap penyelenggaraan festival ini. Ia menegaskan bahwa kegiatan seperti ini sangat penting dan harus terus didukung, karena menjadi wadah pembentukan karakter, kreativitas, dan jati diri bangsa bagi generasi muda.

Gedung Balai Pertemuan Bhagawanta Bahari.
Dok. Maulana Rahmadha (TandaGlobalNews)

"Kami sangat mengapresiasi terselenggaranya kegiatan besar ini. Mulai dari pelaksanaan lomba tanggal 28 April lalu hingga penutupan dan pemberian penghargaan hari ini di Balai Bhagawanta Bhari. Ini adalah bukti bahwa pendidikan di Kediri tidak hanya soal akademik, tetapi juga sangat peduli pada seni, budaya, dan bakat anak-anak. Bagi para pemenang, ini adalah awal dari perjalanan panjang, kesempatan terbuka lebar untuk mewakili daerah ke jenjang yang lebih tinggi," ujarnya. 

Acara penyerahan penghargaan ditutup dengan harapan agar semangat berkarya dan mencintai budaya terus menyala di dada setiap siswa. Para juara yang telah memenuhi syarat administrasi dan kriteria penilaian selanjutnya akan dipersiapkan untuk mengikuti ajang serupa di tingkat provinsi, guna kembali mengharumkan nama Kabupaten Kediri di kancah yang lebih luas.


Penulis : Fitri Rahayu

Editor : Aditya Efendi

Tinggalkan Komentar

Lebih baru Lebih lama