Picu Masalah Keluarga, Agus Nekat Gali Makam Ibunya Sendiri di Pemakaman Tangerang Selatan

Ilustrasi gambar makam


Tandaglobalnews Tangerang Selatan, 14 Mei 2026 – Sebuah peristiwa yang mengundang kekhawatiran dan menjadi pembicaraan hangat warga terjadi di Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Sengkol, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan. Seorang pria bernama Agus nekat melakukan tindakan tak biasa, yaitu menggali makam ibunya sendiri. Tindakan kontroversial ini diketahui berawal dari akar masalah keluarga yang panjang dan keruh, yang membuatnya mengambil langkah ekstrem tersebut.

Kejadian itu berlangsung pada Sabtu, 9 Mei 2026 sekitar pukul 13.50 WIB. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pihak kepolisian dan keterangan warga sekitar, Agus datang ke lokasi pemakaman sendirian dan membawa peralatan sederhana untuk menggali tanah. Awalnya warga mengira ia hanya berziarah atau membersihkan makam keluarga. Namun, rasa curiga muncul saat ia mulai menggali secara terus-menerus dan terlihat emosional. Warga yang khawatir segera melaporkan hal itu ke pihak berwenang.

Kapolsek Cisauk, AKP Dhady Arsya, membenarkan kejadian tersebut saat dikonfirmasi awak media, Rabu (13/5/2026). Ia juga menjelaskan latar belakang kehidupan Agus yang menjadi akar dari masalah ini, yang ternyata memiliki kisah masa kecil yang pahit dan penuh perpisahan dengan keluarga kandungnya.

"Dia (Agus) dari kecil itu, sejak umur sembilan bulan, sudah diurus dan dibesarkan sama mamangnya dan bibinya. Kondisi waktu itu memang sulit, karena ayahnya pergi meninggalkan keluarga, sedangkan ibunya meninggal dunia saat Agus masih bayi. Sejak saat itu, ia sepenuhnya dirawat, dididik, dan tumbuh besar di asuhan keluarga paman dan bibinya," jelas AKP Dhady Arsya.

Dari penelusuran yang dilakukan penyidik, ketidakharmonisan dan masalah keluarga ini sudah berlangsung puluhan tahun. Agus yang besar tanpa kasih sayang orang tua kandung, di kemudian hari mulai mempertanyakan statusnya, pembagian hak waris, hingga sejarah masa lalu yang tidak jelas. Ketegangan semakin memuncak belakangan ini akibat perselisihan pendapat dan kesalahpahaman antara Agus dengan keluarga besar maupun pihak yang dianggapnya memiliki kaitan dengan masa lalu ibunya.

Puncaknya adalah rasa kekecewaan dan kemarahan yang meluap, yang membuat Agus mengambil keputusan nekat untuk mendatangi makam ibunya. Ia merasa ada hal yang belum selesai, ada kebencian yang terpendam, atau rasa tidak terima atas nasib dan perlakuan yang ia terima selama ini. Tindakan menggali makam itu dilakukan sebagai bentuk pelampiasan emosi, meskipun hal itu bertentangan dengan norma adat, agama, dan kesusilaan yang berlaku di masyarakat.

Saat petugas kepolisian tiba di lokasi, Agus masih berada di dekat makam yang sudah digali sebagian. Ia kemudian diamankan untuk dimintai keterangan. Berdasarkan pemeriksaan intensif, diketahui bahwa tidak ada niat jahat untuk mencuri atau merusak benda di makam. Tindakannya murni didasari masalah internal keluarga yang rumit dan rasa emosi yang tidak tersalurkan.

"Yang jelas, pemicu utamanya adalah masalah keluarga yang sudah lama berakar. Ada rasa kekecewaan, rasa sakit hati, dan perselisihan yang belum selesai. Tindakan yang ia lakukan itu adalah pelampiasan dari segala emosi yang menumpuk itu," tambah AKP Dhady.

Pihak kepolisian tidak memproses Agus secara hukum pidana, mengingat konteks masalahnya yang bersifat kekeluargaan dan tidak ada unsur kriminal berat. Namun, petugas telah menasihatinya dengan tegas agar tidak mengulangi perbuatan yang melanggar norma tersebut. Pihak kepolisian juga telah berkoordinasi dengan tokoh masyarakat dan keluarga untuk melakukan mediasi, menyelesaikan perselisihan, serta menenangkan kondisi psikologis Agus agar tidak bertindak di luar kendali lagi.

Peristiwa ini menjadi sorotan warga sekitar karena dianggap sangat jarang terjadi dan menyentuh sisi kemanusiaan. Banyak warga yang prihatin dengan nasib Agus yang tumbuh tanpa orang tua, namun di sisi lain juga mengecam tindakan menggali makam sebagai hal yang tidak pantas dan tidak menghormati orang yang sudah meninggal.

Hingga kini, makam tersebut sudah kembali ditutup dan diperbaiki oleh pihak keluarga serta pengelola pemakaman. Sementara itu, proses penyelesaian masalah keluarga antara Agus dan kerabat lainnya masih terus diupayakan melalui jalur kekeluargaan dan pendekatan damai, agar perselisihan yang ada dapat tuntas dan tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari.

 

Sumber: detiknews


Tinggalkan Komentar

Lebih baru Lebih lama