TandaGlobalNews | SURABAYA, Jumat 1 Mei 2026 – Pagi hari yang mendung di Kota Pahlawan tak menyurutkan semangat Enik Suhartini (48). Seperti biasa, perempuan asal Jember ini sudah memulai rutinitasnya jauh sebelum matahari terbit. Jarum jam belum genap menunjukkan pukul 05.00 WIB, ia sudah bangun dan bersiap berangkat ke rumah majikannya di kawasan Surabaya Timur.
Selama tujuh tahun terakhir, menjadi Asisten Rumah Tangga (ART) bukan sekadar pekerjaan baginya, melainkan jalan takdir dan tanggung jawab besar untuk menghidupi serta menyekolahkan anak-anaknya.
Kehidupan Enik berjalan dengan ritme yang padat namun teratur.
"Jam setengah tujuh saya sudah berangkat. Habis masak, lanjut cuci-cuci. Jam 10 setrika, nanti sore masak lagi," ujar Enik saat ditemui di lokasi kerjanya.
Pekerjaan rumah tangga yang meliputi memasak, mencuci, menyetrika, hingga mengasuh anak majikan memakan waktu seharian. Ia baru bisa pulang ke rumah kontrakannya di kawasan Ngagel sekitar pukul 18.30 WIB, bahkan seringkali lebih malam jika ada pekerjaan tambahan. Perjalanan pulang pergi memakan waktu sekitar 30 menit, namun ia tekuni dengan ikhlas.
Kisah Enik bukan tanpa luka. Ia mulai bekerja sebagai ART sejak tahun 2018, tak lama setelah ditinggal wafat oleh suaminya pada tahun 2015. Sebelumnya, ia sempat bekerja di beberapa toko di Surabaya dan Sidoarjo, namun merasa tidak betah.
Berbekal informasi dari tetangga, ia mencoba peruntungan menjadi pembantu rumah tangga. Awalnya hanya mencoba, namun ternyata ia menemukan kenyamanan dan keluarga baru di tempat ia bekerja sekarang.
"Awalnya ya saya coba dulu pekerjaan itu, kan posisinya suami saya meninggal dan anak-anak masih harus lanjut sekolah, jadi saya harus kerja untuk membesarkan mereka. Ternyata saya merasa nyaman dengan menjadi ART di sini," ceritanya sambil tersenyum tulus.
Bagi Enik, lelahnya bekerja seharian terbayar lunas ketika melihat hasil jerih payahnya. Dua anak laki-lakinya kini tumbuh menjadi pribadi yang baik dan berprestasi.
Anak pertamanya sudah menikah, sementara anak keduanya masih menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren di Jember dan sedang giat-giatnya menghafal Al Quran.
"Alhamdulillah, anak bungsu saya yang juga menghafal Al Quran kemarin juga masuk tiga besar di sekolahan, saya merasa senang. Tapi yang penting bagi saya anak bisa sekolah, bisa punya bekal buat masa depan mereka," ungkapnya dengan mata berbinar.
Enik mengaku tidak pernah memaksakan kehendak pada anak-anaknya. Selama mereka berada di jalan yang benar dan berbakti, itu sudah menjadi kebanggaan terbesar bagi seorang ibu.
Menjadi perantau tentu tidak mudah. Enik harus rela meninggalkan kampung halaman dan hanya bisa pulang menjenguk keluarga sekitar tiga bulan sekali. Rasa rindu kepada anak dan orang tua pasti ada, namun ia sadar itu adalah konsekuensi yang harus dijalani.
"Kalau rindu ya pasti ada, sama anak, sama orang tua. Tapi ya bagaimana lagi. Ya namanya orangtua, selalu ingin memberikan hal yang terbaik buat anak, jadi saya harus bekerja meskipun kadang merasa kangen," ucapnya pelan namun tegar.
Beruntung, selama tujuh tahun bekerja, Enik mendapatkan perlakuan yang sangat baik dari majikannya. Ia merasa dianggap seperti keluarga sendiri, tidak pernah dibedakan, bahkan sering mendapatkan tambahan uang jajan.
Gajinya pun mengalami kenaikan yang signifikan. Dari yang awalnya hanya Rp 1,5 juta pada tahun 2018, kini ia bisa menerima lebih dari Rp 3 juta per bulan. Penghasilan itu dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan, bahkan masih bisa disisihkan untuk ditabung.
"Iya, masih bisa nabung sedikit, buat ke depannya," katanya.
Di tengah perbincangan mengenai Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT) yang baru disahkan, Enik sangat menyambut baik aturan tersebut.
"Ya sangat setuju sekarang, jadi orang bisa lebih menghargai pekerja rumah tangga dan kami merasa lebih diperhatikan. Perlindungan itu penting, meskipun saya pribadi beruntung dapat majikan baik, tapi kan tidak semua nasibnya sama," tuturnya.
Ia juga berpesan kepada sesama pekerja agar selalu bersabar, jujur, dan mau menerima kritik jika melakukan kesalahan, karena itulah kunci kerukunan saat bekerja di rumah orang lain.
Di usianya yang tak lagi muda, Enik mulai memimpikan masa depan yang lebih tenang. Ia mengaku ingin segera berhenti bekerja pada orang lain jika tanggungan anak sudah selesai.
"Aku sebenarnya ingin berhenti, tapi masih ada tanggung jawab. Kalau nanti sudah ada tabungan, pengen buka usaha kecil di rumah, tinggal di kampung tenang-tenang bareng keluarga," pungkasnya.
Kisah Enik menjadi bukti nyata bahwa di balik profesi yang sering dianggap sederhana, tersimpan kekuatan luar biasa, ketulusan hati seorang ibu, dan semangat juang yang patut diteladani.
Sumber: kompas
#tandaglobalnews #gresiksumpek #surabaya #news #jember #mayday #KisahInspiratif #ART #PekerjaRumahTangga #HariBuruh

Posting Komentar