Trump Mengamuk: Proposal Damai Iran Disebut "Sampah", Timur Tengah Kembali Membara!

 TANDAGLOBALNEWS | WASHINGTON D.C. – Ketegangan di Timur Tengah kembali mencapai titik didih setelah Presiden AS Donald Trump secara resmi menolak proposal perdamaian terbaru dari Teheran. Dalam pernyataan yang dirilis melalui platform Truth Social dan komentar langsung di Gedung Putih, Trump menyebut dokumen tersebut sebagai "sampah" dan menyatakan bahwa status gencatan senjata saat ini tengah berada dalam kondisi "life support" (sekarat).

Pada Senin malam, 11 Mei 2026, Presiden Trump mengonfirmasi telah membaca tanggapan tertulis dari perwakilan Iran yang dikirimkan melalui mediator Pakistan. Namun, proses pembacaan tersebut tampaknya tidak berlangsung lama karena rasa kecewa sang Presiden.

"Saya bahkan tidak menyelesaikan membacanya. Setelah melihat isi sampah yang mereka kirim, itu benar-benar tidak dapat diterima!" ujar Trump kepada wartawan di Oval Office.

Berdasarkan laporan internal dan sumber pemerintahan, terdapat beberapa perbedaan prinsipil yang membuat kesepakatan ini kolaps:

  • Inkonsistensi Nuklir: Trump mengklaim bahwa sebelumnya Iran sempat setuju secara lisan untuk mengizinkan AS membantu mengeluarkan cadangan uranium yang diperkaya tinggi (sekitar 400 kg gas uranium) dari fasilitas bawah tanah mereka. Namun, poin ini hilang dalam dokumen resmi yang dikirimkan Iran.
  • Tuntutan Kompensasi: Teheran menuntut ganti rugi perang, pengakuan kedaulatan penuh atas Selat Hormuz, dan pencabutan total sanksi ekonomi dari Kantor Pengawasan Aset Asing AS (OFAC) sebagai syarat pembukaan blokade.
  • Jaminan Agresi: Iran mendesak jaminan tertulis bahwa AS tidak akan melakukan serangan udara lebih lanjut terhadap infrastruktur militer mereka.

Reaksi pasar terhadap kegagalan diplomasi ini sangat instan:

  • Harga Minyak Melejit: Harga minyak mentah jenis Brent melonjak 2,9% ke posisi $104,21 per barel karena kekhawatiran akan penutupan permanen Selat Hormuz.
  • Blokade Maritim: Sekitar 1.550 kapal dari 87 negara dilaporkan masih tertahan di kawasan Teluk. AS mengancam akan melanjutkan pengawalan militer penuh (Project Freedom) untuk menembus blokade Iran.
  • Sanksi Baru: Departemen Keuangan AS langsung menjatuhkan sanksi tambahan terhadap 12 individu dan entitas yang membantu penjualan minyak Iran ke Tiongkok.

Presiden Trump dijadwalkan terbang ke Beijing pekan ini untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Fokus utama pertemuan tersebut adalah mendesak Tiongkok—sebagai pembeli minyak terbesar Iran—untuk memberikan tekanan maksimal agar Teheran mau tunduk pada syarat-syarat Amerika.

Di sisi lain, juru bicara militer Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa angkatan bersenjata mereka siap memberikan "pelajaran keras" jika AS memutuskan untuk mengakhiri gencatan senjata dan kembali melancarkan operasi militer skala besar.

Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun "Nota Kesepahaman 14 Poin" sempat memberikan harapan bulan lalu, ketidakpercayaan mendalam antara Trump dan kepemimpinan Iran yang terpecah pasca-serangan udara sebelumnya membuat perdamaian permanen masih sangat sulit dicapai.

Tinggalkan Komentar

Lebih baru Lebih lama