Prabowo Ungkap Capaian Ekonomi Gemilang: Cadangan Beras Pecah Rekor 5,3 Juta Ton & Harga Pupuk Turun 20 Persen Pertama Kali Sejarah

 

foto:sekertariat kabinet


 

Tandaglobalnews  JAKARTA – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memaparkan sederet capaian luar biasa dan keberhasilan nyata perekonomian nasional dalam pidato pentingnya pada Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Pertemuan yang berlangsung di Gedung Nusantara, Kompleks MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Rabu (20/5/2026) .

Presiden Prabowo menegaskan dengan tegas bahwa pemerintah telah menetapkan swasembada pangan sebagai prioritas tertinggi dan agenda utama nasional. Langkah strategis ini diambil demi menjaga stabilitas negara, menjamin ketersediaan kebutuhan pokok di seluruh wilayah dalam negeri, serta memastikan bahwa seluruh rakyat Indonesia memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, bergizi, dan terjangkau harganya. Menurut Presiden, pangan adalah fondasi utama kedaulatan sebuah negara; bangsa baru bisa disebut berdaulat sepenuhnya apabila mampu memenuhi kebutuhan makan rakyatnya sendiri tanpa bergantung pada bantuan atau pasokan dari pihak luar.

Berkat kerja keras luar biasa, sinergi kuat antara pemerintah pusat dan daerah, dukungan penuh bagi para petani, serta kebijakan pertanian yang tepat sasaran dan berkelanjutan, sepanjang tahun 2026 ini pemerintah berhasil mencatatkan capaian yang sangat signifikan, bersejarah, dan sangat membanggakan. Terjadi peningkatan produksi pangan yang cukup besar di berbagai komoditas strategis, khususnya komoditas beras yang menjadi makanan pokok mayoritas rakyat Indonesia.

"Produksi kita tertinggi selama sejarah Republik Indonesia. Capaian yang luar biasa ini membuat gudang-gudang penyimpanan milik pemerintah ternyata tidak lagi cukup menampung hasil panen yang melimpah, sehingga kita harus menyewa gudang-gudang tambahan lain. Kita sekarang punya cadangan sudah lebih dari 5,3 juta ton beras cadangan," ungkap Presiden Prabowo dengan nada bangga, seraya memaparkan data perbandingan yang sangat jelas dan mencolok.

Presiden merinci lonjakan jumlah cadangan beras nasional yang sangat signifikan hanya dalam kurun waktu kurang dari setahun. Per Desember 2025, jumlah cadangan beras yang dikuasai negara tercatat sekitar 3,25 juta ton. Namun, berkat keberhasilan kebijakan pertanian dan keberhasilan panen raya, per tanggal 10 Mei 2026 ini, jumlah cadangan beras yang berhasil dikumpulkan dan diamankan oleh negara melonjak tajam menjadi 5,3 juta ton.

 Angka ini menegaskan bahwa Indonesia kini memiliki benteng pertahanan pangan yang sangat kuat, aman, dan kokoh. Cadangan strategis ini menjadi jaminan utama negara untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan risiko di masa depan, baik itu akibat perubahan iklim ekstrem, bencana alam yang mengganggu masa tanam maupun panen, fluktuasi harga pasar global yang tidak menentu, hingga gangguan rantai pasok internasional. Dengan stok sebesar ini, Presiden memastikan bahwa dalam situasi apa pun, rakyat Indonesia tidak akan kelaparan, tidak akan kekurangan pangan, dan harga kebutuhan pokok tetap bisa dikendalikan agar terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

pertanian tetap tinggi, serta meningkatkan kesejahteraan para petani yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan negeri ini.

Presiden menjelaskan, ketersediaan pupuk yang cukup dengan harga terjangkau adalah nyawa bagi pertanian Indonesia. Oleh karena itu, keberhasilan pemerintah memproduksi sendiri dan menstabilkan harga ini merupakan langkah besar memutus ketergantungan pada pasar luar negeri sekaligus perlindungan nyata bagi ekonomi petani. Namun di tengah keberhasilan ini, Presiden juga mengingatkan adanya tanggung jawab besar yang harus dijaga bersama agar manfaat kebijakan ini benar-benar dirasakan oleh yang berhak.

"Yang sekarang kita harus jaga dan kita kawal bersama dengan sangat ketat adalah jangan sampai pupuk subsidi ini diselewengkan, jangan sampai dikorupsi, jangan sampai diperjualbelikan secara gelap, atau diselundupkan ke tempat lain hingga ke luar negeri. Ini harus kita jaga bersama, dari pemerintah, aparat penegak hukum, hingga masyarakat dan organisasi tani. Pupuk subsidi ini hak petani kita, harus sampai utuh ke tangan mereka. Jangan sampai kebijakan besar ini rusak karena ulah oknum yang tidak bertanggung jawab," imbau Presiden dengan nada tegas dan serius.

Kebijakan penurunan harga pupuk dan pengamanan pasokan ini merupakan bagian integral dari strategi besar pemerintah memajukan sektor pertanian. Ketika biaya produksi petani turun, maka semangat bertani akan meningkat, ketersediaan pangan terjamin, dan ketahanan nasional semakin kokoh. Hal ini sejalan dengan agenda utama pemerintah untuk memakmurkan masyarakat desa dan menjadikan pertanian sebagai sektor kekuatan ekonomi baru Indonesia.

 

Selain keberhasilan spektakuler di sektor pertanian tersebut, Presiden juga menyoroti keberhasilan pemerintah dalam memperluas jangkauan, cakupan, serta manfaat dari berbagai program sosial, mulai dari bantuan pangan, bantuan energi, dukungan ekonomi, hingga program kesehatan dan pendidikan yang semakin tepat sasaran. Tak kalah penting, Presiden juga menekankan keberhasilan dalam mempercepat laju industrialisasi nasional dan hilirisasi sumber daya alam, di mana pemerintah terus mendorong transformasi ekonomi dari yang berbasis bahan mentah menjadi bernilai tambah tinggi, guna menciptakan lapangan kerja luas dan kemandirian ekonomi bangsa.

 

Presiden meyakini, dengan semakin kokohnya ketahanan pangan yang memegang rekor sejarah, dukungan nyata bagi petani melalui penurunan harga pupuk, semakin luasnya perlindungan sosial bagi rakyat, dan semakin kuatnya pondasi industri nasional yang mandiri, maka perekonomian Indonesia akan semakin tangguh, tumbuh berkelanjutan, dan membawa bangsa ini menuju cita-cita kemajuan, kesejahteraan, dan kemandirian yang sesungguhnya.

 

 

 ️ Sumber: Sekretariat Kabinet Republik Indonesia / BPMI Setpres

 

 

 

#tandagobalnews#PresidenPrabowo #CapaianEkonomi #KetahananPangan #SwasembadaPangan #CadanganBeras #RekorProduksi #BerasNasional #HargaPupuk #SejarahBaru #KesejahteraanPetani #ProgramSosial #Industrialisasi #Hilirisasi #KemandirianBangsa #RapatParipurnaDPR #PembangunanIndonesia #Setkab #BeritaNasional

Tinggalkan Komentar

Lebih baru Lebih lama