Mbah Rusik Ungkap Sejarah Sumber Wungu, Berawal dari Sumber Jambe hingga Pohon Sonokeling Keramat

 



Situs Sumber Wungu di Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri menyimpan sejarah panjang yang masih dijaga oleh masyarakat hingga saat ini. sumber foto : Roni Ardiansyah/ Tandaglobalnews 

TandaglobalnewsKEDIRI – Di balik suasana asri dan keberadaan sumber mata air yang menjadi daya tarik wisata, Situs Sumber Wungu di Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri menyimpan sejarah panjang yang masih dijaga oleh masyarakat hingga saat ini. Sejarah tersebut disampaikan langsung oleh juru kunci Sumber Wungu, Mbah Rusik, yang selama bertahun-tahun merawat dan menjaga kawasan tersebut.

Menurut Mbah Rusik, asal-usul Sumber Wungu bermula dari sebuah sumber mata air yang dahulu dikenal dengan nama Sumber Jambe.

"Dulu awalnya tempat ini bernama Sumber Jambe yang berada di sebelah selatan wilayah Kapasan," tutur Mbah Rusik saat menceritakan sejarah kawasan tersebut.

Sumber mata air itu telah lama dimanfaatkan masyarakat sekitar dan menjadi bagian penting dalam kehidupan warga. Selain sebagai sumber air, lokasi tersebut juga dikenal memiliki nilai sejarah dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Nama Sumber Wungu Berasal dari Pohon Wungu

Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai mengenal kawasan tersebut dengan nama Sumber Wungu. Nama itu berasal dari keberadaan pohon wungu yang tumbuh di dekat sumber mata air.

Keberadaan pohon tersebut menjadi penanda alami yang mudah dikenali masyarakat sehingga lambat laun nama Sumber Wungu lebih populer dibandingkan nama sebelumnya.

Dalam budaya Jawa, penamaan suatu wilayah berdasarkan unsur alam seperti pohon, sungai, atau sumber mata air merupakan hal yang umum terjadi. Karena itulah pohon wungu memiliki peran penting dalam sejarah penamaan kawasan tersebut.

Pernah Memiliki Pohon Sonokeling Raksasa

Selain pohon wungu, kawasan Sumber Wungu juga pernah memiliki pohon sonokeling berukuran sangat besar yang menjadi salah satu ikon situs.

Mbah Rusik menjelaskan bahwa pohon sonokeling tersebut telah berusia sangat tua dan dianggap memiliki nilai sejarah sekaligus nilai spiritual oleh masyarakat setempat.

"Pohon sonokelingnya dulu sangat besar. Banyak warga yang mengenalnya sebagai pohon tua yang menjadi bagian dari sejarah tempat ini," ujarnya.

Pohon sonokeling (Dalbergia latifolia) sendiri merupakan salah satu jenis pohon kayu keras asli Jawa yang dikenal memiliki kualitas kayu tinggi dan bernilai ekonomis. Pohon ini juga memiliki bunga berukuran kecil berwarna putih kekuningan yang mengeluarkan aroma harum saat mekar.

Menurut Mbah Rusik, bunga sonokeling biasanya muncul pada musim kemarau dan sering dianggap sebagai pertanda datangnya berkah oleh masyarakat sekitar.

Dipercaya Menjadi Penjaga Kawasan Leluhur

Di kalangan masyarakat setempat, keberadaan pohon sonokeling tua tersebut tidak hanya dipandang sebagai pohon biasa. Pohon itu dipercaya sebagai penjaga kawasan sakral peninggalan leluhur yang berada di sekitar sumber mata air.

Kepercayaan tersebut telah diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari tradisi dan kearifan lokal masyarakat Gedangsewu.

Bunga sonokeling yang kecil, sederhana, namun harum juga dimaknai sebagai simbol kesederhanaan hidup serta penghormatan terhadap alam dan warisan leluhur.

Meski demikian, pohon sonokeling yang menjadi ikon kawasan tersebut kini telah mati karena faktor usia. Namun kisah dan sejarahnya masih terus dikenang oleh warga maupun para pengunjung yang datang ke Sumber Wungu.

Warisan Budaya yang Terus Dijaga

Saat ini Sumber Wungu menjadi salah satu destinasi wisata religi dan budaya yang cukup dikenal di Kabupaten Kediri. Selain menikmati suasana alam yang teduh dan keberadaan sumber mata air yang masih mengalir, pengunjung juga dapat mengenal berbagai cerita sejarah yang berkembang di kawasan tersebut.

Mbah Rusik berharap generasi muda dapat ikut menjaga dan melestarikan situs tersebut agar sejarah mengenai Sumber Jambe, pohon wungu, dan pohon sonokeling tua tetap lestari sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Kediri.

"Sejarah ini perlu dijaga agar anak cucu nanti tetap mengetahui asal-usul tempat ini dan menghargai peninggalan para leluhur," pungkasnya.

Tinggalkan Komentar

Lebih baru Lebih lama