IHSG dan Rupiah Anjlok, Menkeu Purbaya: "Enggak Apa-Apa, Nanti Kita Perbaiki"

 TANDAGLOBALNEWS | JAKARTA – Pasar keuangan domestik sedang mengalami tekanan hebat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok ke level terendah harian di intraday 6.398,78 sebelum ditutup melemah 1,85% di level 6.599,24. Di saat yang sama, nilai tukar Rupiah juga terjerembap hingga menembus kisaran Rp17.500 per Dolar AS.

Namun, di tengah kepanikan pasar tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru menunjukkan respons yang sangat tenang dan optimistis saat ditemui awak media di lapangan.

Ketika para wartawan mencegatnya dan mengonfirmasi bahwa IHSG telah menembus zona merah di level 6.400-an, Menkeu Purbaya langsung memberikan jawaban pemungkas yang mendinginkan suasana.

"Enggak apa-apa, nanti kita perbaiki. Kan gini, fondasi ekonominya kan bagus. Itu masalah sentimen jangka pendek," ujar Purbaya dengan nada santai namun tegas.

Kalimat "enggak apa-apa, nanti kita perbaiki" ini menjadi sorotan utama, mencerminkan kepercayaan diri pemerintah bahwa gejolak yang terjadi saat ini bukanlah akibat dari keretakan struktural pada ekonomi Indonesia, melainkan sekadar riak psikologis pasar.

Menkeu menegaskan bahwa prioritas utamanya saat ini adalah menjaga agar sentimen negatif tersebut tidak sampai mengoreksi sektor riil. Pemerintah berkomitmen penuh untuk mengawal fondasi ekonomi agar pertumbuhan triwulan ini tetap terjaga kuat di atas jalur ekspansifnya (setelah sebelumnya mencetak angka 5,61% di triwulan I).

Sebagai bentuk tindakan nyata dari kalimat "kita perbaiki", Purbaya membeberkan strategi intervensi taktis yang mulai digulirkan per hari ini. Kementerian Keuangan akan masuk secara masif ke pasar surat utang (bond market).

"Minggu lalu udah masuk tapi hanya sedikit. Mulai hari ini akan kita masuk dengan lebih signifikan lagi, sehingga pasar obligasinya terkendali," jelasnya.

Langkah agresif ini sengaja diambil untuk menebal benteng pertahanan pasar obligasi pemerintah. Dengan masuknya likuiditas dari pemerintah, harga obligasi akan terjaga, sehingga investor asing tidak perlu panik melakukan aksi jual massal demi menghindari kerugian modal (capital loss). Stabilnya pasar obligasi ini diyakini akan langsung meredam volatilitas dan memperkuat kembali otot Rupiah.

Ketenangan Menkeu Purbaya bukan tanpa alasan. Ia meluruskan kepanikan beberapa pihak yang mulai mengaitkan kejatuhan Rupiah saat ini dengan memori kelam krisis moneter 1997-1998. Menurutnya, menyamakan kondisi sekarang dengan era tersebut adalah sebuah kekeliruan besar.

"Beda. '97-'98 tuh kebijakannya salah dan instability sosial, politik terjadi setelah setahun kita resesi. '97 pertengahan tuh kita udah resesi. Kita kan sekarang belum resesi, ekonomi masih tumbuh kencang. Jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semuanya," kata Purbaya meluruskan.

Karena meyakini koreksi pasar ini bersifat sementara dan murni didorong oleh sentimen jangka pendek, Menkeu Purbaya justru melihat situasi ini sebagai diskon besar bagi para pemburu saham. Berdasarkan pembacaan indikator teknikal, ia memprediksi pasar saham domestik akan segera berbalik arah dalam hitungan hari.

"Jadi teman-teman enggak usah khawatir. Investor pasar saham, kalau saya bilang, jangan takut serok bawah sekarang. Kalau saya lihat teknikalnya, sehari dua hari udah balik. Jadi... ya jangan lupa beli saham, kira-kira gitu," pungkasnya optimis.

Tinggalkan Komentar

Lebih baru Lebih lama