Dari Abu Kebakaran Menuju Baitullah: Kisah Riski Fauziah, Mahasiswi yang Berangkat Haji dengan Sisa Uang Musibah

 



Tandaglobalnews Ambon – Di tengah kepulan asap dan puing-puing bekas kebakaran yang pernah meluluhlantakkan hidupnya, tersimpan sebuah harapan yang tak pernah padam. Riski Fauziah (21), seorang mahasiswi Fakultas Farmasi di Ambon, Maluku, kini menjadi salah satu jemaah haji termuda yang akan menunaikan ibadah suci pada musim haji 1447 H/2026. Yang membuat kisahnya begitu menyentuh hati, ia berangkat berkat sisa uang yang berhasil diselamatkan dari kobaran api yang pernah menghanguskan usaha dan tempat tinggal keluarganya.

 Perjalanan menuju Tanah Suci ini bukanlah hal yang mudah. Bertahun-tahun lalu, tempat usaha keluarga Riski di Pasar Luhu Timur dilanda kebakaran besar. Api dengan cepat melalap segala harta benda yang mereka miliki, meninggalkan mereka tanpa tempat tinggal dan sumber penghasilan. Namun, di tengah kepanikan dan kesedihan, almarhumah ibunda Riski, Nur Aidah, berani menerobos kobaran api. Dengan tekad yang kuat, ia berhasil menyelamatkan sebagian uang yang tersimpan di dalamnya – uang yang kelak menjadi awal dari perjalanan suci ini.

 "Habis kebakaran kita hijrah ke Ambon, jadi uang yang diselamatkan ibu, separuh dipakai untuk modal usaha dan separuh untuk nabung haji," cerita Riski dengan suara yang terdengar haru namun tegas.

 Sejak saat itu, keluarga Riski mulai membangun hidup dari nol. Ayahnya, Alimudin Damang, bersama almarhumah ibunya terus menyisihkan sedikit demi sedikit dari hasil usaha mereka untuk menambah tabungan haji yang sudah dimulai dari sisa uang kebakaran tersebut. Butuh waktu selama 10 tahun hingga akhirnya tabungan itu cukup untuk mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji.

 Sayangnya, takdir berkata lain. Nur Aidah, sosok yang begitu berjuang dan berharap bisa bersujud di Baitullah, meninggal dunia pada tahun 2024 di usia 46 tahun, sebelum sempat mewujudkan impiannya. Hati keluarga hancur, namun janji dan tabungan itu tetap terjaga. Akhirnya, kesempatan emas itu diberikan kepada Riski untuk menggantikan posisi ibunda, dan ia akan berangkat bersama ayahnya tahun ini.

 Saat ini, Riski menjadi salah satu dari 587 jemaah haji asal Maluku, dan juga salah satu yang termuda. Ia mengaku tidak memiliki persiapan khusus selain menjaga kondisi fisik dan mengikuti bimbingan manasik haji seperti jemaah lainnya. Fokus utamanya hanya satu: bisa menjalankan ibadah dengan lancar, sekaligus mendampingi ayahnya yang juga merasakan kerinduan mendalam terhadap almarhumah istri.

 "Rasanya campur aduk, senang bisa berangkat haji, tapi juga sedih karena ibu tidak bisa ikut. Tapi saya berjanji akan berdoa yang terbaik untuk beliau dan seluruh keluarga di sana," ujar Riski.

 Kisah Riski menjadi bukti nyata bahwa musibah bukanlah akhir dari segalanya. Dari abu dan sisa kebakaran, tumbuhlah semangat yang tak tergoyahkan dan doa yang akhirnya terjawab. Perjalanan ini bukan hanya tentang menunaikan rukun Islam, tetapi juga tentang menghormati pengorbanan orang tua dan membawa nama keluarga menuju keberkahan yang tak ternilai.

 Semoga perjalanan Riski dan ayahnya menjadi haji yang mabrur, dan segala pengorbanan serta kesabaran yang mereka lalui menjadi penggugur dosa dan dibalas dengan kebahagiaan yang abadi.

SUMBER BERITA:CNN Indonesia

 

 

#tandaglobalnews#KisahHajiInspiratif #RiskiFauziah #HajiDariSisaKebakaran #MahasiswiHaji #AmbonBerita #HajiMabrur #SemangatIman #KisahHaru

Tinggalkan Komentar

Lebih baru Lebih lama