Dalang Muda Ki Akbar Syahalam Pentas Wayang Kulit di Nganjuk, Tandai Awal Musim Panen Tebu

 


Tandaglobalnews | NGANJUK – Dalang muda berbakat Ki Akbar Syahalam menghadirkan pergelaran wayang kulit semalam suntuk bertajuk Kresna Duta di wilayah Patianrowo, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Jumat (22/5/2026) malam. Pentas ini digelar sebagai tradisi istimewa sekaligus penanda resmi dimulainya musim panen tebu bagi para petani di wilayah tersebut, menjadi wujud rasa syukur dan doa agar panen berjalan lancar serta menghasilkan produksi gula yang berlimpah dan berkualitas.

Diiringi alunan gamelan dan iringan sinden, Ki Akbar Syahalam memerankan setiap tokoh dengan luwes dan penuh penghayatan, memikat ribuan warga yang memadati lokasi acara sejak sore. Sebagai dalang muda yang telah dikenal memiliki kemampuan mendalang mumpuni, ia mampu menyajikan pesan moral, nasihat kehidupan, serta nilai luhur budaya Jawa melalui alur cerita Kresna Duta yang sarat makna.

Menurut tradisi yang turun-temurun di Nganjuk, daerah yang menjadi salah satu sentra penghasil tebu dan gula utama di Jawa Timur, pagelaran wayang kulit dijadikan momen sakral sebelum panen dimulai. Kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan ungkapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesuburan tanah, sekaligus harapan agar hasil panen tebu tahun ini lebih banyak, berkualitas tinggi, dan membawa kesejahteraan bagi seluruh petani serta masyarakat sekitar.

“Pagelaran ini kami gelar bukan hanya untuk melestarikan seni budaya warisan leluhur, tapi juga sebagai bentuk doa bersama. Kami berharap setelah acara ini, panen tebu berjalan lancar, cuaca mendukung, dan hasilnya berlimpah ruah sehingga kesejahteraan petani semakin meningkat,” ujar Ki Akbar Syahalam di sela-sela pentasnya.

Warga setempat menyambut antusias kegiatan ini. Bagi mereka, kehadiran dalang muda seperti Ki Akbar Syahalam membuktikan bahwa seni wayang kulit tetap hidup dan diteruskan generasi muda, sekaligus menjadi perekat persatuan warga. Di tengah kemajuan zaman, tradisi ini tetap dijaga karena dianggap memiliki nilai penting, baik secara budaya maupun sosial, khususnya bagi masyarakat yang hidup dari hasil pertanian dan perkebunan tebu.

Acara berlangsung meriah hingga dini hari, diakhiri dengan doa bersama. Keberhasilan pentas ini sekaligus menegaskan Nganjuk sebagai salah satu wilayah yang kuat menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi, kesejahteraan petani, dan kelestarian budaya lokal yang berharga.

 

Sumber: infopublik.id


Tinggalkan Komentar

Lebih baru Lebih lama