TandaGlobalNews KEDIRI – Realita pahit tengah dirasakan oleh para pengemudi becak yang biasa
mangkal dan beroperasi di kawasan Jl. Raya Plongko, Kecamatan Pare, Kabupaten
Kediri. Di tengah hiruk pikuk lalu lintas dan kemajuan transportasi modern yang
semakin pesat, nasib mereka kini semakin terpuruk dan memprihatinkan.
Dulu, jalanan ini adalah ladang rezeki yang
menjanjikan. Namun kini, situasi telah berubah drastis. Persaingan yang sangat
ketat serta jumlah penumpang yang semakin hari semakin minim membuat
penghasilan mereka tak menentu dan sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari.
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi,
terlihat jelas suasana yang sangat sepi. Puluhan tukang becak terlihat hanya
duduk bersandar di kendaraannya, ada yang melamun, ada yang mengobrol sesama
rekan untuk mengusir bosan, namun lebih banyak yang hanya diam menanti
kehadiran penumpang yang tak kunjung datang.
Mereka rela menunggu berjam-jam, bahkan dari
pagi buta hingga sore atau malam hari, hanya demi mendapatkan satu atau dua
penumpang saja. Tak jarang dalam satu hari mereka harus pulang dengan tangan
kosong atau pendapatan yang sangat minim, bahkan tak cukup untuk membeli makan
sendiri, apalagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga di rumah seperti biaya
sekolah anak, listrik, dan kebutuhan pokok lainnya.
Ada beberapa faktor utama yang membuat nasib
tukang becak di Plongko ini semakin mengkhawatirkan.
Dahulu becak adalah salah satu primadona
transportasi daratan yang sangat dibutuhkan masyarakat. Namun kini, kehadiran
ojek online (ojol), ojek pangkalan, hingga angkutan kota yang lebih cepat,
murah, dan praktis membuat masyarakat beralih. Kebanyakan penumpang kini lebih
memilih kendaraan bermotor yang dianggap lebih efisien waktu dan sampai tujuan
dengan cepat.
Masyarakat kini lebih banyak memiliki
kendaraan pribadi, baik motor maupun mobil, sehingga kebutuhan akan jasa
angkutan umum seperti becak semakin menurun drastis. Selain itu, daya beli
masyarakat yang juga menuntut mereka untuk lebih hemat, sehingga memilih
transportasi yang dirasa lebih murah.
Meskipun berlokasi di Jalan Raya Plongko yang
sangat strategis dan ramai dilalui kendaraan, namun arus penumpang yang
benar-benar membutuhkan jasa becak kini sangat sedikit. Mereka harus bersaing
ketat tidak hanya antar sesama tukang becak yang jumlahnya masih banyak, tetapi
juga melawan berbagai jenis transportasi modern lainnya.
Kondisi sepi ini berdampak sangat fatal
terhadap ekonomi mereka. Para pengemudi mengaku, pendapatan yang mereka terima
saat ini jauh dari kata cukup dan layak.
Sulit Mencukupi Kebutuhan: Uang yang didapat
seringkali hanya cukup untuk makan seadanya, belum lagi harus menyisihkan untuk
biaya perawatan becak, bensin, dan kebutuhan keluarga.
Tidak Ada Pilihan Lain: Banyak dari mereka
sudah berusia lanjut dan tidak memiliki keahlian lain selain mengendarai becak.
Mereka merasa terjebak dalam situasi sulit namun tetap harus bertahan demi
sesuap nasi dan kelangsungan hidup keluarga.
Masa Depan yang Gelap: Profesi ini seolah mati
suri dan terancam punah seiring berjalannya waktu karena tidak ada regenerasi
dan minat yang tinggi dari generasi muda.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi di Jl.
Raya Plongko, Pare masih menunjukkan gambaran yang sangat menyedihkan.
Jumlah Becak Masih Banyak: Meskipun sepi
penumpang, jumlah tukang becak yang mangkal di area ini masih cukup padat,
menunjukkan bahwa persaingan untuk mendapatkan satu penumpang saja sangat ketat
dan keras.
Suasana Sepi Pembeli: Aktivitas terlihat
sangat lambat dan lesu. Becak-becak terparkir rapi namun jarang ada yang
disewa. Waktu tunggu yang lama hingga berjam-jam bahkan seharian tanpa hasil
menjadi makanan sehari-hari mereka.
Masih Bertahan dengan Sabar: Meskipun sering
mengeluh sulitnya cari rezeki dan kondisi yang semakin memprihatinkan, para
tukang becak ini tetap setia menunggu di tempat biasa mereka mangkal dengan
penuh kesabaran dan keikhlasan, berharap ada rezeki yang datang walau hanya sedikit.
Fasilitas Sederhana: Mereka hanya mengandalkan
tempat duduk sederhana di pinggir jalan, berteduh di bawah pohon atau tiang
listrik, menahan terik matahari maupun hujan demi mencari nafkah.
Para tukang becak ini hanya berharap agar ada
perhatian lebih dari pemerintah atau pihak terkait, mungkin berupa pelatihan
keterampilan lain, bantuan sosial, atau program pemberdayaan mengingat usia
mereka yang sudah tidak muda lagi.
Selain itu, mereka juga berharap masyarakat
masih mau menggunakan jasa mereka, setidaknya untuk membantu meringankan beban
hidup saudara-saudara kita yang berjuang keras di bawah terik matahari dan
hujan.
.jpeg)
Posting Komentar