TandaGlobalNews
JAKARTA – Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Rabu,
29 April 2026. Lonjakan harga ini dipicu oleh memanasnya situasi geopolitik di
Timur Tengah setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan akan
mempertahankan blokade angkatan laut terhadap Iran hingga tercapai kesepakatan
nuklir yang memuaskan.
Mengutip data CNBC, harga minyak patokan dunia Brent melesat
naik sekitar 6% dan ditutup pada posisi USD 118,03 per barel. Sementara itu,
harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) atau minyak AS naik
hampir 7% dan ditutup menjadi USD 106,88 per barel.
Dalam pernyataannya kepada Axios, Trump secara blak-blakan menyebutkan
bahwa strategi blokade yang diterapkan saat ini justru lebih efektif daripada
melakukan serangan militer terbuka.
"Blokade ini agak lebih efektif daripada
pengeboman," ujar Trump dengan tegas.
Pernyataan ini semakin menutup ruang negosiasi damai dalam
waktu dekat. Sebelumnya, Iran menawarkan kesepakatan untuk membuka kembali
Selat Hormuz dengan syarat AS mencabut blokadenya. Namun, Teheran ingin menunda
pembahasan soal program nuklir ke masa mendatang. Tawaran ini ditolak
mentah-mentah oleh pihak AS.
Menlu AS, Marco Rubio, juga menegaskan skeptisismenya
terhadap proposal Iran. Ia menegaskan bahwa Selat Hormuz adalah jalur perairan
internasional, bukan milik negara manapun.
"Itu bukan membuka selat. Itu adalah jalur perairan
internasional. Mereka tidak dapat menormalisasi, dan kita juga tidak dapat
mentolerir upaya mereka untuk menentukan siapa yang berhak lewat dan memungut
biaya," tegas Rubio.
Saat ini, pasokan energi melalui Selat Hormuz yang
mengangkut sekitar seperlima kebutuhan minyak dan gas dunia masih sangat
terganggu. Sekitar 20 juta barel per hari terpengaruh akibat ketegangan ini.
Di tengah gejolak harga ini, pasar juga mencerna kabar
mengejutkan soal keputusan Uni Emirat Arab (UEA) yang resmi keluar dari
organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) mulai pekan ini.
Para ahli strategi dari bank ING menilai langkah UEA ini
merupakan "pukulan besar" bagi OPEC. Namun, dampaknya dinilai tidak
serta merta menurunkan harga karena situasi konflik yang sedang terjadi jauh
lebih dominan pengaruhnya.
"Meskipun begitu, dalam jangka pendek, pendorong
terbesar harga minyak tetaplah perkembangan di Teluk Persia dan kapan aliran
minyak akan kembali normal," tulis analis ING.
Para analis memperingatkan bahwa meskipun konflik berakhir
besok, pemulihan pasar tidak bisa terjadi secara instan. Diperlukan waktu untuk
membersihkan ranjau, mengurai kemacetan kapal tanker, hingga memulihkan
produksi.
Diperkirakan dibutuhkan waktu sekitar 4 hingga 6 bulan agar
kondisi pasar benar-benar stabil kembali. Selama periode tersebut, harga
diperkirakan akan tetap berada di level tinggi karena stok pasokan global terus
menipis hingga ke tingkat kritis.
"Semakin lama konflik berlangsung, semakin tinggi
harganya. Jika konflik berakhir besok, harga minyak diperkirakan bisa langsung
turun sekitar USD 10 per barel," tambah analis tersebut.
Sumber Berita:
LIPUTAN6
#HargaMinyak #Brent #WTI
#DonaldTrump #Iran #SelatHormuz #OPEC #Ekonomi #BeritaDunia

Posting Komentar