TandaGlobalNews | GADUNGAN KEDIRI , Kamis 14 Mei 2026 – Sebagai saksi sejarah dan tokoh masyarakat yang sangat memahami seluk-beluk serta cerita di balik keberadaan situs bersejarah di desanya, Bapak Hadi Mustofa menjadi narasumber utama yang paling tepat untuk menjelaskan segala hal mengenai Situs Batu Gajah. Berawal dari kisah masa lalu yang penuh keunikan, perubahan fungsi tempat, hingga harapan besar untuk masa depan, berikut adalah hasil wawancara lengkap dan mendalam bersama Bapak Hadi Mustofa yang mengungkapkan segala fakta tanpa ada yang dikurangi maupun ditambah.
Ditanya mengenai awal mula dan alasan penamaan tempat ini, Bapak Hadi menjelaskan dengan rinci, "Kalau kita perhatikan baik-baik, sebenarnya namanya sudah mewakili bentuk aslinya. Di sini ada satu bongkahan batu alam yang sangat besar, ukurannya cukup raksasa, dan bentuknya secara alami, tanpa diukir tangan manusia, persis sekali menyerupai seekor gajah yang sedang berdiri diam. Itulah sebabnya dari dulu warga sekitar menamakan tempat ini Batu Gajah. Keberadaan batu ini sudah ada jauh sebelum generasi kami lahir, sudah ada sejak zaman leluhur terdahulu, menjadi ciri khas tak tergantikan dari Desa Gadungan. Lokasinya berada tepat di tengah kawasan yang rimbun ini, dan menjadi penanda wilayah yang sangat mudah dikenali siapa saja yang lewat."
Mengingat kembali masa-masa dahulu kala, saat kawasan ini belum dijadikan tempat wisata, Bapak Hadi menceritakan fungsi utama lokasi tersebut serta keunikan yang dulu sering membuat warga penasaran dan berbicara banyak. "Dulu, puluhan tahun yang lalu, tempat ini bukan tempat wisata seperti sekarang. Jalan yang ada di sekitar batu ini adalah jalur utama, satu-satunya akses jalan yang wajib dilewati oleh seluruh warga desa apabila hendak pergi ke ladang, ke kebun, atau ke sawah mereka yang ada di wilayah belakang sini. Setiap hari pasti ramai dilewati orang, entah berjalan kaki atau membawa hasil bumi."
Namun, ada satu hal yang sangat melekat dalam ingatan beliau dan warga tua lainnya. "Ada satu hal yang dulu sering kami bahas dan agak terasa ganjil. Siapa saja warga yang lewat di dekat batu ini menggunakan kendaraan tradisional kita, yaitu cikar atau gerobak kayu yang ditarik hewan, sering sekali mengalami kejadian aneh. Gerobak itu bisa tiba-tiba saja terbalik, miring, atau terjatuh ke pinggir jalan, padahal jalurnya rata, datar, tidak ada lubang, tidak ada batu penghalang, dan kondisinya aman-aman saja. Tidak ada penyebab yang masuk akal kenapa bisa begitu. Kejadian itu berulang kali terjadi dan menjadi cerita turun-temurun dari orang tua kami ke kami, sampai sekarang masih sering diingat-ingat."
Beralih ke kondisi masa kini, Bapak Hadi menjelaskan bagaimana warga dan pemerintah desa bersepakat merawat peninggalan tersebut agar tetap lestari. "Sekarang kondisinya sudah jauh berbeda dan lebih tertata rapi. Kami semua sepakat bahwa ini adalah warisan berharga, jadi harus dijaga. Sudah kami buatkan atap pelindung berbentuk limas dengan genteng, supaya batu ini tidak kena panas matahari langsung, tidak kena hujan deras, supaya tidak cepat lapuk atau rusak. Sekelilingnya juga sudah dipagar pakai besi, supaya aman, tidak ada yang merusak, dan memberi batas bagi pengunjung. Di atas sana juga sudah kami pasang bendera Merah Putih, sebagai tanda penghormatan kami terhadap warisan ini."
Ia pun mengakui bahwa hingga saat ini, pengelolaan dan fasilitas yang tersedia masih sangat sederhana dan terbatas. "Memang harus diakui, fasilitas penunjangnya belum banyak dan belum lengkap. Di sekitar sini belum ada warung-warung makan, belum ada tempat istirahat yang luas, belum ada toilet atau fasilitas umum yang memadai. Semuanya masih apa adanya, mengandalkan keindahan alam sekitar yang rimbun dan teduh saja. Karena fasilitasnya belum lengkap, dampaknya ke pengunjung juga terasa. Kalau hari biasa, hari kerja, tempat ini sepi sekali, sepi pengunjung, tenang saja. Baru kalau masuk hari libur, hari Minggu, atau hari besar nasional, barulah tempat ini ramai, banyak yang datang berkunjung, baik warga sekitar maupun dari luar desa yang penasaran ingin melihat dan mendengar cerita sejarahnya."
Di akhir perbincangan, Bapak Hadi Mustofa menyampaikan keyakinan dan harapan besarnya terhadap masa depan Situs Batu Gajah. "Bagi saya dan warga Desa Gadungan, tempat ini sangat berharga, aset budaya dan sejarah asli milik kita sendiri. Kalau dilihat potensinya, sebenarnya sangat besar sekali. Bentuknya unik, ceritanya menarik, lingkungannya asri dan sejuk, ini modal besar. Kalau nanti ke depannya bisa dikembangkan lebih serius, fasilitasnya dilengkapi, jalannya diperbaiki, saya yakin betul Batu Gajah ini bisa jadi tujuan wisata yang terkenal. Tugas kita sekarang adalah merawatnya sebaik mungkin, supaya anak cucu kita nanti juga masih bisa melihat, mengetahui, dan bangga memiliki warisan leluhur seindah dan seunik ini di Desa Gadungan.
Sumber : Fitri Rahayu
Editor : Redaksi TandaGlobalNews
#WawancaraBapakHadiMustofa #SitusBatuGajah #DesaGadungan #SejarahDanBudaya #WarisanLeluhur #BeritaDaerah #TandaGlobalNews

Posting Komentar