Trump Rilis 162 Dokumen Rahasia UFO, Langkah Ini Dituduh Pengalihan Isu Kasus Jeffrey Epstein



TandaGlobalNews | JAKARTA – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, resmi merilis ratusan dokumen rahasia yang berisi laporan lengkap mengenai penampakan objek terbang tak teridentifikasi atau dikenal dengan sebutan UFO. Namun, langkah yang diklaim sebagai wujud transparansi ini justru menuai kritik tajam, dan dituduh hanya sebagai taktik mengalihkan perhatian publik dari kasus besar yang belum tuntas, yakni jaringan kejahatan seksual yang dipimpin oleh Jeffrey Epstein .

Dirangkum dari detikcom, Minggu (10/5/2026), Departemen Pertahanan AS atau Pentagon merilis sebanyak 162 dokumen rahasia pada Jumat pagi waktu setempat, 8 Mei 2026. Dokumen-dokumen tersebut bukan hanya berasal dari Pentagon, melainkan juga dikumpulkan dari berbagai lembaga negara lainnya, seperti Biro Investigasi Federal (FBI), Departemen Luar Negeri, hingga Badan Antariksa AS (NASA). Seluruh materi kini sudah dapat diakses bebas oleh publik melalui situs resmi Pentagon .

Isi dokumen ini memuat beragam catatan, laporan penyelidikan, rekaman video, foto, dan kesaksian yang dikumpulkan selama puluhan tahun terkait fenomena anomali udara yang sulit dijelaskan secara ilmiah. Pemerintah Trump menilai publikasi ini sebagai langkah bersejarah demi keterbukaan informasi.

Namun, alih-alih dipuji, langkah ini justru diserang kritik keras dari banyak pihak, termasuk politisi yang dulunya merupakan sekutu dekat Trump sendiri. Mereka menilai pengungkapan dokumen UFO ini hanyalah "propaganda pengalih perhatian", agar publik lupa bahwa dokumen lengkap dan rinci terkait kasus Jeffrey Epstein belum pernah dibuka sepenuhnya seperti yang dijanjikan.

Salah satu kritikus paling vokal adalah Marjorie Taylor Greene, mantan anggota Kongres dari Partai Republik. Melalui akun media sosialnya, ia menulis dengan nada sinis: "Saya sangat muak dengan propaganda 'lihat objek berkilau' ini. Mereka sibuk merilis dokumen UFO, sementara di sisi lain masih membiarkan pemerkosa dan pelaku kejahatan seksual berkeliaran bebas, belum merilis semua berkas Epstein, serta merusak nilai ekonomi negara ini."

Greene menegaskan, masyarakat lebih berhak mengetahui kebenaran lengkap mengenai Epstein—miliarder yang meninggal di penjara namun kasusnya masih menyisakan banyak misteri dan keterkaitan dengan tokoh-tokoh berkuasa dunia—daripada sekadar laporan penampakan benda asing di langit.

"Kecuali mereka bisa menunjukkan alien hidup atau bukti nyata, rilis dokumen ini sama sekali tidak berarti apa-apa. Pemerintah disebut paling transparan, tapi sampai sekarang belum tuntas membuka berkas Epstein, tapi malah sibuk dengan isu UFO," tambahnya dengan tegas .

Banyak pengamat politik juga sependapat. Langkah ini dinilai bertepatan dengan tekanan publik yang semakin besar menuntut pembukaan total berkas Epstein, sebagaimana diamanatkan undang-undang yang sudah disahkan parlemen AS. Di tengah ketegangan politik, perang di Timur Tengah, dan kenaikan harga bahan bakar yang melonjak, isu UFO dianggap cara mudah untuk membuat perhatian publik beralih ke hal yang lebih sensasional namun tidak krusial.

Pemerintah AS sendiri membantah tuduhan tersebut, dan menegaskan bahwa kedua hal itu sama sekali tidak berkaitan. Pentagon menyatakan pelepasan dokumen UFO sudah direncanakan jauh hari sebelumnya dan merupakan bagian dari kewajiban transparansi lembaga, terlepas dari isu hukum atau politik lainnya.

Meski demikian, kritik terus bergulir luas di media sosial dan media massa. Banyak netizen menyebut langkah ini hanyalah "tembok asap", agar dunia tidak terlalu fokus pada kasus yang jauh lebih berdampak besar dan menyangkut nama-nama besar di lingkaran kekuasaan Amerika Serikat.

Hingga kini, publik masih menunggu kapan pemerintah Trump benar-benar akan merilis seluruh dokumen kasus Jeffrey Epstein secara lengkap dan tanpa penyensoran berlebih, sebagaimana yang telah dijanjikan sejak awal masa jabatannya.

 

Sumber: detiknews

#UFO #DonaldTrump #Pentagon #JeffreyEpstein #AmerikaSerikat #BeritaInternasional #PolitikDunia #TandaGlobalNews

 

Tinggalkan Komentar

Lebih baru Lebih lama