Tandaglobalnews Jakarta – Keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau
BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dinilai sebagai langkah
strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global
yang terus meningkat.
Chief Economist Trimegah Sekuritas
Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai kebijakan tersebut bukan sekadar respons
jangka pendek terhadap gejolak pasar, melainkan bentuk keseriusan pemerintah
dan otoritas moneter dalam memulihkan kepercayaan investor terhadap Rupiah.
Menurut Fakhrul, langkah agresif Bank
Indonesia menunjukkan bahwa otoritas moneter tidak ingin terlambat mengambil
tindakan stabilisasi di tengah kuatnya tekanan eksternal, seperti penguatan
dolar Amerika Serikat dan ketidakpastian pasar keuangan global.
“Keputusan BI sudah tepat. Ini bukan sekadar kenaikan suku bunga, tetapi pernyataan bahwa jangkar kebijakan Indonesia tetap dijaga,” ujar Fakhrul dalam keterangannya, Kamis, 21 Mei 2026.
Fakhrul bahkan menjadi satu-satunya ekonom
dalam konsensus Bloomberg yang memprediksi BI akan menaikkan suku bunga hingga
50 basis poin. Ia menilai kondisi ekonomi saat ini membutuhkan kebijakan
moneter yang bersifat pre-emptive agar biaya stabilisasi ekonomi tidak semakin
besar di masa mendatang.
Ia memperkirakan penguatan Rupiah akan
mulai terjadi secara bertahap setelah fase overshooting atau pelemahan
berlebihan dinilai telah berakhir. Menurutnya, level Rp17.300 per dolar AS
berpotensi menjadi titik stabilisasi awal sebelum Rupiah bergerak menuju
keseimbangan baru di kisaran Rp16.800 per dolar AS.
“Pasar sekarang memiliki jangkar baru setelah respons BI yang tegas. Jika koordinasi kebijakan berjalan baik, Rupiah bisa bergerak menuju level yang lebih sehat,” katanya.
Selain kenaikan BI-Rate, Fakhrul menyebut
intervensi pasar valas, penguatan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward
(DNDF), serta perluasan transaksi Local Currency Transaction (LCT) akan
memperkuat keyakinan pasar bahwa tekanan terhadap Rupiah mulai terkendali.
Ia juga mengingatkan bahwa pekerjaan
pemerintah dan otoritas moneter belum selesai. Setelah menaikkan BI-Rate,
langkah lanjutan yang dianggap penting adalah memperbaiki struktur pasar uang
dan obligasi domestik agar transmisi kebijakan berjalan lebih sehat.
Fakhrul menyoroti perlunya penyesuaian suku
bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) secara bertahap agar instrumen
tersebut tidak terus menyerap likuiditas pasar secara berlebihan.
Menurutnya, jika SRBI terlalu menarik, dana
investor akan terkonsentrasi pada instrumen jangka pendek dan berpotensi
mengganggu pasar Surat Berharga Negara (SBN), termasuk menekan pembentukan
kurva imbal hasil atau yield curve yang sehat.
“Rupiah tidak hanya membutuhkan suku bunga tinggi, tetapi juga struktur pasar yang kredibel,” tegasnya.
Ia menambahkan, normalisasi yield curve
penting untuk mendorong investor kembali masuk ke obligasi jangka panjang
sehingga dapat mendukung pembiayaan pembangunan dan memperbaiki ekspektasi
pasar terhadap ekonomi Indonesia.
Selain itu, Fakhrul menekankan pentingnya
sinergi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan dalam menjaga stabilitas
ekonomi nasional. Menurutnya, kebijakan moneter perlu diperkuat dengan
komunikasi fiskal yang jelas, terutama terkait subsidi energi, strategi
penerbitan SBN, dan arah pembiayaan pemerintah.
“BI menjaga jangkar stabilitas, sementara Kementerian Keuangan menjaga kredibilitas fiskal. Jika keduanya berjalan bersama, pasar akan kembali percaya pada prospek besar ekonomi Indonesia,” tutup Fakhrul Fulvian.
sumber : infopublik.id

Posting Komentar