![]() |
| Muhsinul ihsan Saat Presentasi dalam Ajang International Symposium on Fish Nutrition and Feeding [ISFNF] 2026 |
Tandaglobalnews JAKARTA – Kabar membanggakan kembali datang dari
kalangan penerima Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kementerian Agama. Muhsinul
Ihsan, dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram sekaligus penerima beasiswa
luar negeri BIB, berhasil meraih penghargaan bergengsi The Johan Schrama
Prize for Best Oral Presentation dalam ajang International Symposium on
Fish Nutrition and Feeding (ISFNF) 2026. Acara internasional tersebut
berlangsung di Darwin Convention Centre, Australia, pada 18 hingga 21 Mei 2026.
Penghargaan ini diberikan secara khusus kepada
pembicara yang dinilai memiliki inovasi riset terbaik dan kemampuan penyampaian
ilmiah yang paling menonjol di antara seluruh peserta yang hadir dalam forum
tingkat dunia di bidang nutrisi dan pakan perikanan tersebut. Keberhasilan
Muhsinul bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi dan institusi, tetapi juga
mengukuhkan kualitas sumber daya manusia unggul binaan Kementerian Agama di
kancah global.
Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan
Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Kementerian Agama, Ruchman Basori, menyampaikan
apresiasi dan kebanggaan mendalam atas capaian luar biasa ini. Menurutnya,
prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa penerima Beasiswa Indonesia Bangkit
tidak hanya mampu bersaing secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan
kontribusi ilmiah yang memiliki dampak luas bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan
masyarakat.
“Prestasi ini menjadi bukti bahwa awardee BIB
mampu tampil kompetitif di forum internasional sekaligus membawa nama baik
Indonesia dan Kementerian Agama. Ini juga memperlihatkan betapa pentingnya
investasi pendidikan dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang mampu
menghasilkan inovasi berbasis riset,” ujar Ruchman Basori di Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Simposium ISFNF sendiri merupakan forum ilmiah
internasional yang diselenggarakan oleh International Society of Aquaculture
Nutrition (ISAN) bekerja sama dengan Commonwealth Scientific and Industrial
Research Organisation (CSIRO). Ajang ini rutin digelar dua tahun sekali dan
menjadi ruang kolaborasi utama bagi para peneliti, perguruan tinggi, lembaga
riset, hingga industri pakan dari berbagai negara di dunia.
Pada penyelenggaraan tahun 2026 ini, tercatat
sebanyak 295 delegasi yang hadir berasal dari 42 negara, mencakup kalangan
akademisi, peneliti, praktisi, hingga mahasiswa doktoral. Dari total 220
abstrak penelitian yang masuk dan diseleksi secara ketat, hanya 63 riset yang
terpilih untuk dipresentasikan secara lisan dalam sesi utama. Hal ini
menjadikan kategori presentasi lisan sebagai salah satu yang paling kompetitif
dan bergengsi di seluruh rangkaian acara.
Berbeda dengan seminar biasa, seluruh presentasi
dilakukan dalam satu forum terbuka, sehingga seluruh peserta dapat langsung
menyimak, berdiskusi, dan memberikan penilaian secara langsung terhadap kualitas
materi dan cara penyampaian setiap pembicara.
Dalam kesempatan tersebut, Muhsinul Ihsan
mempresentasikan hasil penelitian berjudul pemanfaatan medan magnet untuk
meningkatkan aktivitas makan dan mencegah kegagalan pergantian kulit pada
lobster laut jenis spiny lobster. Kajian ini disebut-sebut sebagai salah
satu riset perdana di dunia yang menawarkan pendekatan baru, ilmiah, dan
inovatif dalam mendukung budidaya lobster yang lebih efektif, efisien, dan
berkelanjutan.
Tak hanya unggul dalam materi riset, Muhsinul
juga mencuri perhatian seluruh peserta internasional dengan cara unik dan
bermakna: ia mengenakan pakaian tradisional Lombok, Nusa Tenggara Barat, saat
berdiri di depan podium. Baginya, penggunaan busana daerah bukan sekadar
kebiasaan, melainkan simbol kuat bahwa generasi muda Indonesia harus tetap
bangga dan memegang teguh identitas budaya bangsa, meski sedang berada di
panggung dunia.
“Prestasi akademik dan identitas budaya harus
berjalan beriringan. Kita bisa bersaing secara global tanpa meninggalkan jati
diri Indonesia,” tegas Muhsinul Ihsan.
Keberhasilan ini semakin menegaskan komitmen
Kementerian Agama melalui program Beasiswa Indonesia Bangkit dalam mencetak
para ahli, peneliti, dan akademisi yang tidak hanya berilmu tinggi, tetapi juga
berkarakter, berbudaya, dan membawa manfaat bagi kemajuan bangsa dan negara di
mata dunia.

Posting Komentar