Tandaglobalnews KULON PROGO – Nasib para pendidik anak usia dini (PAUD) di wilayah Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini semakin memprihatinkan. Di tengah tuntutan besar untuk mencerdaskan generasi muda bangsa sejak usia dini, kesejahteraan para guru pengabdi ini justru tergerus drastis akibat kebijakan pemangkasan alokasi Dana Desa yang dilakukan oleh pemerintah pusat.
Akibat kebijakan tersebut, honorarium atau insentif yang diterima para
guru PAUD kini merosot tajam. Angka yang diterima saat ini dikabarkan hanya
menyentuh angka Rp 350 ribu per bulan, sebuah nilai yang dinilai sangat tidak
sebanding dengan beban kerja dan tanggung jawab yang mereka emban.
Sebagai informasi, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya
pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun.
Fokus utamanya bukanlah memberikan materi pelajaran berat seperti di sekolah
dasar, melainkan memberikan rangsangan pendidikan yang tepat untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan jasmani serta rohani anak.
Tugas mulia ini sangat krusial karena bertujuan mempersiapkan anak agar
memiliki kesiapan mental dan fisik yang baik sebelum memasuki jenjang pendidikan
yang lebih formal dan lanjut.
Hal berat itulah yang saat ini sedang dialami oleh Yuni Rahayu, seorang
guru PAUD di Taman Kanak-kanak (TK) Pertiwi, yang berlokasi di Kalurahan
Pengasih, Kapanewon Pengasih, Kulon Progo.
Guru yang sudah mengabdikan dirinya selama beberapa waktu terakhir ini
kini harus menerima kenyataan pahit. Honor yang ia terima turun drastis menjadi
Rp 350 ribu per bulan. Angka tersebut berkurang sebesar Rp 150 ribu dari
sebelumnya yang mencapai Rp 500 ribu per bulan.
Yuni mengaku bahwa pemotongan honor ini terasa sangat berat baginya.
Sebab, menurutnya, gaji yang diterima sebelumnya saja sudah terbilang sangat
kecil dan pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun kini,
justru kembali dipotong karena imbas dari pemangkasan dana desa yang dilakukan
secara besar-besaran dari pusat.
"Memang berat rasanya, apalagi sebelumnya saja sudah kecil,
sekarang dipotong lagi," keluhnya dengan nada sedih.
Meskipun hati merasa sedih dan beban hidup semakin berat, Yuni mengaku
tetap berusaha mempertahankan semangatnya dalam mengajar anak-anak didiknya.
Baginya, mengajar bukan sekadar mencari nafkah, melainkan sudah menjadi
komitmen dan panggilan hati sebagai seorang pendidik. Ia merasa memiliki
tanggung jawab besar terhadap masa depan pendidikan anak-anak di lingkungannya.
"Kami tetap berusaha memberikan yang terbaik dan bekerja
semaksimal mungkin demi anak-anak," ucap Yuni dengan tegas, menunjukkan
dedikasi tinggi yang patut diacungi jempol.
Kepala TK dan PAUD Pertiwi, Titin Rahayu, saat dikonfirmasi membenarkan
adanya penurunan insentif bagi para guru di tempatnya pada tahun 2026 ini.
Menurut penuturannya, honor untuk guru utama kini menjadi Rp 350 ribu
dari sebelumnya Rp 500 ribu. Sementara untuk posisi guru pendamping, honornya
turun dari Rp 450 ribu menjadi Rp 300 ribu. Hal serupa juga dialami oleh para
guru pendamping muda.
"Begitu juga dengan guru pendamping muda, semuanya ikut terdampak
pemotongan," jelas Titin saat ditemui, Kamis (7/5/2026).
Ia mengaku memahami bahwa penurunan honor ini terjadi karena adanya
pemangkasan Dana Desa oleh pemerintah pusat secara besar-besaran. Namun di sisi
lain, ia juga mengaku sangat kecewa dengan kondisi ini, mengingat peran guru
PAUD sangat vital namun kesejahteraannya justru semakin terabaikan.
Hingga berita ini diturunkan, para guru PAUD ini masih berjuang
bertahan dengan honor yang sangat minim tersebut, berharap ada perhatian lebih
dari pemerintah daerah maupun pusat agar nasib mereka bisa lebih baik di masa
depan.
Sumber: Tribun Jogja
#tandaglobalnews #kulonprogo #paud #gurupaud #danadesa #honorguru
#pendidikan #yogyakarta #beritadaerah
.jpeg)
Posting Komentar