Tandaglobalnews YOGYAKARTA – Aktivis dan pengamat politik, Tyo Ardianto, melontarkan kritik tajam terhadap gaya komunikasi dan penyampaian pidato Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, terdapat kecenderungan yang cukup mencolok di mana Prabowo seringkali terlalu berfokus pada satu isu utama, yaitu program Makan Bergizi Gratis (MBG), tanpa memperhatikan cukup konteks dan suasana forum yang sedang dihadiri.
Hal ini kembali menjadi sorotan publik saat momentum peringatan Hari
Buruh Internasional atau May Day. Acara yang seharusnya menjadi momen penting
untuk membahas secara mendalam mengenai nasib buruh, kesejahteraan pekerja,
upah layak, serta berbagai tantangan di dunia ketenagakerjaan, ternyata diisi
dengan pembahasan yang kembali mengulang tema yang sama.
Bagi Tyo Ardianto, pengulangan materi pidato tersebut dinilai telah
kehilangan relevansinya dengan situasi dan kebutuhan audiens yang hadir.
"Ini bukan sekadar soal apa yang dibicarakan, tetapi juga soal
sensitivitas seorang pemimpin dalam membaca situasi. Di hadapan para buruh dan
pekerja, tentu ekspektasi mereka adalah mendengar solusi dan perhatian khusus
terhadap masalah yang mereka hadapi sehari-hari, bukan sekadar pengulangan
program yang sudah sering didengar," ujar Tyo.
Lebih jauh, Tyo menilai bahwa kecenderungan untuk selalu mengangkat
topik yang sama secara repetitif tersebut mencerminkan bentuk komunikasi publik
yang dinilai kurang adaptif. Terkesan bahwa setiap panggung atau forum resmi
yang dihadiri hanya dijadikan sebagai perpanjangan tangan dari kegiatan
kampanye atau sosialisasi satu program tertentu, tanpa variasi atau kedalaman
substansi yang disesuaikan.
Kondisi ini lantas memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat,
khususnya mengenai bagaimana prioritas kebijakan dan kedalaman pemahaman yang
dimiliki oleh seorang kepala negara saat berbicara di berbagai forum penting.
Publik menaruh harapan agar seorang pemimpin mampu membawa wawasan yang luas
dan jawaban yang tepat guna sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi oleh
berbagai kelompok masyarakat.
Sikap kritis ini juga mendapatkan resonansi yang kuat di kalangan
akademisi dan mahasiswa. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah
Mada (UGM), misalnya, menegaskan bahwa sosok pemimpin tidak hanya dituntut
untuk konsisten dalam pendirian atau program, tetapi juga harus memiliki
kemampuan untuk bersikap kontekstual.
Artinya, seorang pemimpin harus mampu menyesuaikan cara pandang,
bahasa, dan substansi pembicaraannya dengan siapa ia berbicara dan apa yang
menjadi kebutuhan mendesak dari rakyat yang diwakilinya di setiap momentum yang
berbeda. Kritik yang muncul diharapkan dapat menjadi masukan agar komunikasi
publik ke depannya lebih tepat sasaran dan benar-benar menjawab keresahan
masyarakat.
Sumber: Ka Kang Fandi
#tandaglobalnews #fyp #tyoardianto #prabowo #mbg
.jpeg)
Posting Komentar