Tandaglobalnews Bekasi, 29 Mei 2026 – Di tengah hiruk-pikuk persiapan Hari Raya Idul Adha, nama Arif (36), warga kawasan Taman Asri II, Bekasi Utara, Jawa Barat, mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial dan masyarakat luas. Bukan karena kemewahan atau kedudukan, melainkan kisah perjuangan luar biasa seorang penyandang disabilitas yang bertekad kuat berkurban, dengan mengandalkan keringat sendiri, bekerja dari pagi hingga malam mengerjakan apa saja yang halal dan bisa dikerjakannya.
Kisah ini bermula dari niat tulus Arif yang sejak lama ingin melaksanakan ibadah kurban, salah satu perintah agama yang bernilai besar sebagai wujud ketaatan dan kepedulian pada sesama. Meski memiliki keterbatasan fisik dan hidup dengan ekonomi yang sangat pas-pasan, niat itu tak pernah padam di hatinya. Ia bertekad, jika harus berkurban, haruslah dari hasil jerih payahnya sendiri, bukan dari bantuan orang lain atau sedekah, karena baginya nilai ibadah akan terasa lebih bermakna jika diperoleh dari usaha sendiri.
Setiap hari, sejak matahari baru terbit hingga langit mulai gelap, Arif menyusuri jalanan, gang-gang kecil, dan lingkungan perumahan di sekitar tempat tinggalnya sebagai pemulung kardus bekas. Ia mengumpulkan tumpukan kardus, kertas bekas, dan barang layak pakai lainnya, lalu mengangkutnya ke pengepul untuk dijual. Uang yang didapat pun tidak banyak, hanya puluhan hingga ratusan ribu rupiah setiap harinya, tergantung seberapa banyak barang yang berhasil dikumpulkannya.
Namun Arif tak pernah puas hanya dari satu pekerjaan. Demi mengumpulkan uang lebih cepat, ia pun mengambil pekerjaan tambahan apa saja yang ringan dan bisa ia lakukan. Ia sering membantu mencuci mangkuk dan peralatan makan di beberapa warung bakso di dekat rumahnya, membantu pedagang membereskan tempat usaha. Selain itu, Arif juga dikenal rajin membersihkan halaman, ruang wudhu, dan area masjid di lingkungannya, membantu menjaga kebersihan tempat ibadah sebagai marbot sukarela, yang kadang mendapatkan imbalan berupa uang kecil atau sekadar rasa syukur dari warga sekitar.
Semua penghasilan yang didapat dari beragam pekerjaan itu, Arif kelola dengan sangat ketat dan hemat. Ia hidup sangat sederhana, menahan diri untuk tidak memenuhi kebutuhan sekecil apa pun yang dianggapnya tidak mendesak. Uang yang ada, ia pilah-pilah: sebagian kecil untuk makan dan kebutuhan pokok sehari-hari, sisanya—mulai dari uang logam, pecahan Rp1.000, hingga yang paling banyak dikumpulkannya adalah lembaran Rp2.000—ia simpan dan tabung dengan rapi. Proses ini berlangsung berbulan-bulan, bahkan hampir satu tahun lamanya, demi mencapai harga seekor kambing kurban yang di wilayah Bekasi rata-rata berkisar antara Rp2 hingga Rp3,5 juta rupiah.
“Saya ingin berkurban. Saya mau buktikan, meski saya punya keterbatasan, meski penghasilan saya kecil, saya tetap bisa berbagi dan beribadah. Yang penting niat baik dan usaha sungguh-sungguh,” ujar Arif sambil tersenyum sederhana saat menceritakan alasannya kepada warga yang mengunjunginya.
Ia juga menuturkan bahwa setiap kali menerima uang, ia langsung memisahkannya untuk tabungan kurban, tak peduli berapa pun jumlahnya, percaya bahwa perlahan-lahan akan terkumpul juga.
Ketekunan dan ketulusan hati Arif akhirnya berbuah hasil. Beberapa hari lalu, ia berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk membeli seekor kambing kurban. Momen itu pun terabadikan dalam foto yang kemudian tersebar luas di media sosial: terlihat Arif berdiri tegak di samping kambing pilihannya, di dekatnya terhampar tumpukan uang kecil dan lembaran Rp2.000 yang ia kumpulkan selama berbulan-bulan. Foto dan kisah di baliknya langsung menyentuh hati siapa saja yang membacanya, dengan cepat menjadi viral dan dibagikan ribuan kali oleh warganet.
Respon masyarakat pun luar biasa. Banyak warga, tokoh agama, hingga para dermawan yang datang berkunjung ke rumah sederhana Arif. Mereka tidak hanya ingin memberi selamat dan mengapresiasi kegigihannya, tetapi juga tergerak hati untuk turut berbagi. Beberapa orang baik secara sukarela menghadiahkan hewan kurban tambahan untuk Arif, agar ia bisa berkurban lebih dari satu ekor dan manfaatnya bisa dirasakan lebih banyak orang yang membutuhkan. Ada juga yang memberikan bantuan berupa kebutuhan hidup sehari-hari, namun Arif tetap menerima dengan rendah hati, dan berjanji akan tetap bekerja seperti biasa, karena prinsip kemandiriannya tetap ia pegang teguh.
Kisah Arif kini menjadi teladan nyata bagi banyak orang, terutama di tengah masyarakat yang sering kali mengeluh atau merasa berat berbuat baik dengan alasan keterbatasan. Ia membuktikan dengan nyata bahwa keterbatasan fisik maupun kondisi ekonomi bukanlah penghalang untuk beribadah, berbagi, dan menjadi orang yang bermanfaat. Justru dari keterbatasan itulah, semangat dan ketulusannya terlihat jauh lebih besar dan menginspirasi.
Para tokoh agama di Bekasi pun memuji perjuangan Arif. Menurut mereka, ibadah kurban Arif bernilai sangat tinggi, karena lahir dari kerja keras, kesabaran, dan niat yang murni. “Arif mengajarkan kita semua: berkurban bukan soal besar kecilnya hewan, atau mahal murahnya harga, tapi seberapa besar usaha dan ketulusan hati kita dalam berbagi kepada sesama. Ia adalah bukti bahwa siapa pun, dalam kondisi apa pun, bisa menjadi orang yang mulia dan memberi manfaat,” ungkap salah satu pengurus masjid tempat Arif membantu kebersihan.
Kini, menjelang Hari Raya Idul Adha, Arif bersiap menyembelih hewan kurbannya, baik yang ia beli sendiri maupun pemberian dermawan. Dagingnya nanti akan dibagikan kepada tetangga, kaum dhuafa, dan warga sekitar yang membutuhkan. Bagi Arif, ini bukan akhir dari perjuangannya, melainkan awal dari semangat baru untuk terus bekerja, beribadah, dan berbagi selama ia masih mampu.
Kisah Arif mengingatkan kita semua: kebesaran hati tidak diukur dari apa yang kita miliki, tapi dari seberapa besar usaha kita untuk memberi dan berbuat baik, sekecil apa pun kemampuan yang kita miliki. Di Bekasi Utara, nama Arif kini bukan sekadar nama, tapi simbol keteguhan hati dan bukti nyata bahwa keterbatasan hanyalah alasan bagi mereka yang berputus asa, bukan bagi mereka yang memiliki tekad dan iman yang kuat.

Posting Komentar