TandaGlobalNews | BANDUNG – Perayaan Iduladha 1447 Hijriah yang baru saja berlalu membawa pesan mendalam tentang persaudaraan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab menjaga alam. Nilai-nilai tersebut menjadi semakin relevan ketika dunia sedang dihadapkan pada berbagai krisis, mulai dari konflik geopolitik, kesenjangan ekonomi, hingga kerusakan lingkungan. Hal tersebut diuraikan oleh Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, A. Rusdiana, dalam sebuah tulisan opini yang diterbitkan Jumat (29/5/2026).
Momentum perayaan ini ditandai dengan pelaksanaan Salat Iduladha di Masjid Istiqlal, Jakarta, yang dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Agama Nasaruddin Umar, jajaran Kabinet Merah Putih, serta para duta besar negara sahabat. Tema yang diusung tahun ini — “Meneguhkan Spirit Qurban, Merawat Alam dan Kemanusiaan” — menegaskan bahwa ibadah kurban tidak sekadar ritual, namun harus melahirkan kesalehan spiritual, sosial, dan ekologis sekaligus.
Menurut Rusdiana, tujuan utama peringatan Iduladha adalah memperkuat ukhuwah Islamiyah, menumbuhkan kepedulian sesama manusia, dan menjaga keseimbangan kehidupan. Nilai-nilai ini bersumber dari kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS, yang mengajarkan bahwa pengorbanan dan keteguhan iman harus beriringan dengan kasih sayang serta kepatuhan kepada Allah SWT.
“Di tengah meningkatnya polarisasi sosial, konflik politik, dan ketegangan global, Iduladha mengingatkan umat Islam untuk menjadi pelopor persaudaraan, dialog, dan kedamaian, bukan justru memperbesar permusuhan,” tegasnya.
Selain memperkuat persaudaraan, Iduladha juga menjadi ajang menumbuhkan kesalehan sosial. Tradisi pembagian daging kurban dinilainya bukan sekadar seremonial, melainkan simbol nyata kehadiran Islam yang peduli dan mewujudkan keadilan sosial. Di saat ekonomi dunia masih menekan banyak pihak dan jurang kesenjangan melebar, semangat berbagi ini menjadi kunci ketahanan dan harapan bersama.
Lebih jauh, tema “Merawat Alam dan Kemanusiaan” membawa pesan baru namun mendasar: Islam juga mengatur hubungan manusia dengan lingkungan hidup. Krisis iklim dan kerusakan alam menjadi tantangan zaman, sehingga ibadah kurban harus melahirkan kesadaran ekologis. Manusia, kata Rusdiana, wajib menjaga keseimbangan alam sebagai amanah Allah agar pembangunan tidak merusak masa depan generasi mendatang.
Poin keempat yang ditekankan adalah peran Iduladha sebagai momentum perdamaian dunia. Konflik bersenjata dan ketegangan politik hanya melahirkan penderitaan, sementara kekuatan sejati manusia justru ada pada kemampuan membangun kedamaian dan menjaga martabat sesama.
“Iduladha harus menjadi titik balik untuk memperkuat dialog antarumat, meneguhkan ukhuwah kebangsaan, dan menyebarkan semangat rahmatan lil ‘alamin,” tambahnya.
Secara keseluruhan, Iduladha 1447 H mengajarkan bahwa ibadah kurban bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momen membangun peradaban yang damai, humanis, dan berkelanjutan. Gema takbir yang berkumandang dari Istiqlal hingga pelosok dunia, sejatinya adalah seruan perdamaian, kasih sayang, dan persatuan seluruh umat manusia.
Sumber : Kemenag.go.id

Posting Komentar