Duka di Balik Jeruji: Kisah Satuan (43), Ayah yang Mengamen demi Anak hingga Kalap oleh Luka Hati


 TANDAGLOBALNEWS | MOJOKERTO – Di ruang penyidikan Polres Mojokerto yang dingin, seorang pria paruh baya bernama Satuan (43) tertunduk lesu. Mengenakan baju tahanan oranye dengan tangan terborgol, sorot matanya tidak menunjukkan kegarangan seorang pelaku kriminal, melainkan kelelahan yang luar biasa. Di balik tragedi berdarah di Puri yang merenggut nyawa ibu mertuanya dan melukai istrinya, tersimpan narasi pilu tentang seorang ayah yang berjuang di titik nadir.

Anak dalam Gendongan dan Jalanan yang Kejam

Bagi Satuan, jalanan Mojokerto adalah saksi bisu perjuangannya. Sebagai pengamen, ia sering kali terpaksa membawa anaknya yang baru berusia 3 tahun menyusuri panasnya aspal Mojosari hingga Surabaya. Bukan karena ia tega, namun karena sang anak tak punya tempat bersandar di rumah.

"Mangkel (kesal) Pak, dia (istri) tidak mau lihat saya kerja bawa anak kecil hujan-hujan, panas kepanasan. Kalau saya kerja, anak harus ikut karena di rumah tidak ada yang mau mengasuh kalau tidak ada uang," tutur Satuan dengan suara parau.

Potret seorang ayah yang memetik gitar sambil menggendong balita di bawah guyuran hujan menjadi gambaran betapa hancurnya fondasi rumah tangga yang ia bangun sejak tahun 2020 tersebut. Satuan hanya ingin anaknya tetap aman di sisinya, meski harus hidup di jalanan.

Cinta yang Dibalas Dusta dan Tagihan Rentenir

Keikhlasan Satuan rupanya bertepuk sebelah tangan. Di tengah keringatnya mencari receh demi receh—yang terkadang hanya berjumlah Rp4.000 sehari—sang istri justru menjalin hubungan gelap dengan pria lain yang dianggap lebih "beruang".

"Saya sudah tahu lama dia selingkuh, saya diam, saya ikuti alurnya. Saya pikir dia akan berubah," ucapnya. Namun, bukan perubahan yang ia dapati, melainkan tumpukan hutang rentenir harian yang mencekik. Semua surat berharga digadaikan untuk memenuhi gaya hidup instan sang istri, meninggalkan Satuan dalam jeratan ekonomi yang mustahil ia urai sendiri.

Kepedihan Satuan memuncak saat mengetahui anak balitanya sering menjadi sasaran kemarahan (ringan tangan) sang istri. Bagi Satuan, anak adalah segalanya, dan melihat darah dagingnya disakiti oleh orang yang seharusnya melindungi adalah luka yang lebih tajam dari sembilu.

"Spontan" yang Mengubah Segalanya

Puncaknya terjadi pada Kamis berdarah itu. Dalam kondisi mental yang hancur dan tekanan batin yang meledak, Satuan kehilangan kendali. Sebuah kekhilafan "spontan" membuatnya melakukan tindakan fatal yang merenggut nyawa ibu mertuanya. Kini, tidak ada lagi jalan pulang.

"Kepikiran anak saya yang kecil terus, Pak. Nyesel, pasti nyesel. Dari hari Minggu saya tidak bisa tidur, hanya wajah anak saya yang terbayang," isaknya di hadapan Kapolres Mojokerto, AKBP Andi Yudha Pranata.

Sentuhan Kemanusiaan di Tengah Hukum

Kapolres Mojokerto yang melihat sisi rapuh dari tersangka, mencoba memberikan pendekatan yang menyentuh hati. Alih-alih hanya mencecar dengan pasal hukum, AKBP Andi Yudha berbicara sebagai sesama manusia.

"Tenangkan diri Mas, kendalikan emosi. Anak-anak dipikirkan ke depan. Kami (Polres) tidak hanya sebagai penegak hukum, tapi sebagai teman. Nanti kita bicara bagaimana pembinaan anakmu agar masa depannya tetap terjaga," ujar Kapolres menenangkan.

Kini, Satuan harus membayar mahal harga dari amarahnya. Di balik jeruji besi, ia tidak lagi meratapi nasibnya, melainkan meratapi nasib malaikat kecilnya yang kini harus tumbuh tanpa dekapan hangat seorang ayah yang dulu rela menembus badai demi menjaganya tetap kenyang. Sebuah pengingat pahit bahwa kemiskinan dan pengkhianatan bisa menghancurkan jiwa yang paling sabar sekalipun.

Sumber : Polres Mojokerto (Mei 2026)

Editot : Radaksi TandaGlobalNews

Tinggalkan Komentar

Lebih baru Lebih lama