![]() |
| situs bersejarah di Kediri peninggalan masa Kerajaan Kahuripan pada era Raja Airlangga kediri . sumber foto : Maulana Rahmadha / Tandaglobalnews |
Tandaglobalnews KEDIRI – Di tengah perkembangan zaman, sebuah situs bersejarah peninggalan masa Kerajaan Kahuripan pada era Raja Airlangga kembali menarik perhatian masyarakat. Situs yang dikenal dengan nama Candi Gempur ini menyimpan kisah panjang tentang sejarah, penemuan, hingga berbagai fakta yang kerap disalahartikan di media sosial.
Menurut keterangan pengelola dan narasumber setempat, Candi Gempur merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang berasal dari masa pemerintahan Raja Airlangga. Nama "Candi Gempur" sendiri telah lama dikenal oleh masyarakat sekitar dan banyak digunakan dalam berbagai unggahan di media sosial.
Penamaan tersebut bukan tanpa alasan. Dahulu, bangunan candi ini pernah mengalami kerusakan akibat dihancurkan atau "digempur". Pada masa itu, sebagian batu penyusun candi diambil oleh warga sekitar yang belum memahami bahwa lokasi tersebut merupakan situs sejarah peninggalan leluhur yang memiliki nilai arkeologis tinggi.
Ditemukan Pemilik Lahan
Keberadaan situs ini sebenarnya sudah diketahui sejak lama. Sebelum dilakukan penggalian, bagian atas batu candi sempat terlihat menyembul beberapa sentimeter di permukaan tanah.
Situs tersebut pertama kali ditemukan oleh pemilik lahan bernama Mbah Syamsudin. Menyadari adanya struktur bangunan kuno di lahannya, ia kemudian melaporkan temuan tersebut kepada instansi terkait agar dapat diteliti lebih lanjut.
Laporan tersebut mendapat tindak lanjut dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Trowulan yang kemudian melakukan serangkaian ekskavasi dan penelitian secara bertahap. Penggalian dilakukan dalam beberapa periode, yakni pada tahun 2016, 2018, dan kembali dilanjutkan pada tahun 2022.
Setelah proses penelitian berlangsung, situs sempat ditimbun kembali menggunakan tanah sebagai langkah pengamanan. Penutupan sementara itu dilakukan untuk menjaga kondisi struktur candi dari potensi kerusakan maupun gangguan pihak yang tidak bertanggung jawab.
![]() |
| arca Kala |
![]() |
| arca Makara |
![]() |
| arca Dwarapala |
Dibuka untuk Wisata Sejak 2022
Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap situs sejarah tersebut, warga mengusulkan agar lokasi itu dapat dimanfaatkan sebagai destinasi wisata desa. Usulan tersebut akhirnya terwujud pada tahun 2022 ketika Candi Gempur resmi dibuka untuk umum.
Pada tahun yang sama, dibangun pula bangunan pelindung berupa payon atau atap guna melindungi struktur candi dari pengaruh cuaca. Karena itu, foto-foto lama yang beredar di media sosial, terutama yang disebut berasal dari sekitar tahun 2001 atau 2002, belum memperlihatkan keberadaan atap pelindung tersebut.
Penggalian Lanjutan Terkendala Anggaran
Meski area di sekitar candi dinilai masih memiliki potensi temuan arkeologis yang cukup luas, hingga saat ini belum ada kepastian mengenai kapan penggalian total akan dilanjutkan.
Kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan anggaran dan tenaga kerja untuk melakukan ekskavasi secara menyeluruh. Oleh sebab itu, penelitian lanjutan masih menunggu kebijakan dan dukungan dari berbagai pihak terkait.
Klarifikasi Isu yang Beredar
Belakangan ini beredar berbagai informasi di media sosial yang menyebutkan bahwa penggalian Candi Gempur akan menyebabkan tiga desa hilang atau digusur. Bahkan ada pula klaim yang menyebut ukuran situs tersebut melebihi Candi Borobudur.
Menanggapi hal tersebut, narasumber menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar. Berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku saat ini, pengembangan situs cagar budaya tidak serta-merta mengharuskan penggusuran permukiman warga.
Sementara itu, istilah "melebihi Borobudur" yang sempat beredar kemungkinan hanya merujuk pada perkiraan luas area potensial situs secara keseluruhan, bukan ukuran bangunan candinya. Hingga kini belum ada data resmi yang menyatakan bahwa Candi Gempur memiliki ukuran lebih besar dibandingkan Candi Borobudur.
Dengan nilai sejarah yang dimiliki, Candi Gempur diharapkan dapat terus dijaga dan dikembangkan sebagai sarana edukasi sejarah sekaligus destinasi wisata budaya yang bermanfaat bagi masyarakat dan generasi mendatang.
Penulis : Maulana Rahmadha
Editor : Novita

.jpeg)


Posting Komentar