KERUSUHAN DI MAKASSAR! Aksi Demonstrasi Peringatan Sejarah Berujung Bentrokan Antara Mahasiswa dan Pengemudi Ojek Daring



 

TandaGlobalNews | MAKASSAR, 25 April 2026 – Suasana haru dan kenangan sejarah yang semula menjadi latar belakang sebuah aksi damai berubah menjadi kekacauan yang memanas di tengah Kota Makassar. Bentrokan hebat terjadi antara sekelompok mahasiswa dan ratusan pengemudi ojek daring (ojol) di Jalan Urip Sumoharjo, salah satu ruas jalan utama yang menjadi jalur perlintasan padat di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Peristiwa yang terjadi pada hari ini menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat serta menarik perhatian berbagai pihak, mengingat latar belakang aksi yang memiliki makna sejarah yang mendalam, namun berakhir dengan perselisihan yang menimbulkan kerugian dan gangguan bagi banyak pihak.

Kejadian ini berlangsung dengan cepat dan memanas seiring berjalannya waktu, bermula dari niat mahasiswa untuk mengenang peristiwa penting dalam sejarah perjuangan masyarakat Makassar, namun kemudian berbenturan dengan kepentingan dan kelancaran aktivitas sehari-hari warga dan pekerja transportasi. Berdasarkan rekaman video yang beredar dan keterangan yang berhasil dihimpun, perselisihan ini berkembang dari perbedaan tujuan hingga berujung pada pertikaian fisik yang memakan waktu cukup lama.

Aksi yang dilakukan oleh mahasiswa ini tidak dilakukan tanpa alasan yang jelas dan berlandaskan sejarah. Para peserta aksi merupakan mahasiswa dari Universitas Muslim Indonesia (UMI), salah satu perguruan tinggi terkemuka di kota ini. Mereka turun ke jalan dengan tujuan utama untuk memperingati 30 tahun peristiwa bersejarah yang dikenal dengan sebutan April Makassar Berdarah atau sering disingkat sebagai peristiwa Amarah yang terjadi pada tahun 1996 silam.

Peristiwa yang menjadi titik tolak perjuangan tersebut dipicu oleh kebijakan pemerintah saat itu yang menaikkan tarif angkutan umum secara drastis. Kenaikan harga yang dianggap tidak mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat tersebut memicu gelombang protes yang meluas dan berujung pada bentrokan yang menimbulkan korban jiwa serta kerusakan fasilitas umum. Bagi generasi penerus, peristiwa ini menjadi simbol perjuangan rakyat dalam menyampaikan aspirasi dan menuntut keadilan, sehingga momen peringatan ini dianggap penting untuk diabadikan sekaligus menjadi pengingat bagi generasi sekarang dan mendatang agar sejarah serupa tidak terulang kembali.

Dalam aksi peringatan ini, para mahasiswa awalnya berencana untuk menyampaikan orasi, membacakan pernyataan sikap, dan melakukan aksi damai lainnya sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah berjuang. Namun, pelaksanaannya kemudian berubah drastis karena cara pelaksanaan aksi yang dinilai mengganggu ketertiban umum.

Kekacauan bermula ketika para peserta demonstrasi melakukan aksi dengan menutup badan jalan utama Jalan Urip Sumoharjo. Tindakan ini dilakukan sebagai cara untuk menarik perhatian publik dan pihak berwenang, namun di sisi lain hal ini justru menjadi pemicu utama munculnya kekecewaan dan kemarahan dari berbagai pihak, terutama pengguna jalan yang melintas.

Di antara mereka yang merasa sangat dirugikan adalah para pengemudi ojek daring. Sebagai pekerja yang menggantungkan penghidupan hariannya pada kelancaran perjalanan dan waktu tempuh yang efisien, penutupan jalan ini membuat aktivitas mereka terhenti total. Banyak pesanan yang tidak dapat diselesaikan, waktu kerja terbuang percuma, dan pendapatan mereka pun berkurang drastis akibat kemacetan parah yang terjadi di sekitar lokasi aksi. Rasa kesal dan frustasi yang menumpuk inilah yang kemudian memicu tindakan reaktif dari para pengemudi ojol.

Merasa hak dan kepentingannya dirugikan, ratusan pengemudi ojek daring tersebut kemudian berinisiatif untuk melakukan pembubaran terhadap aksi demonstrasi yang berlangsung. Apa yang semula hanya berupa pertukaran pendapat dan teguran, semakin memanas dan tidak dapat dikendalikan karena emosi yang sudah memuncak dari kedua belah pihak.

Suasana yang semula tegang berubah menjadi pertikaian fisik yang terbuka. Kedua kelompok yang berbeda tujuan dan kepentingan ini terlibat dalam bentrokan yang cukup hebat. Berbagai cara dilakukan dalam perselisihan tersebut, mulai dari dorong-mendorong, hingga aksi saling melempar batu dan benda-benda keras yang ada di sekitar lokasi kejadian. Suara teriakan, benturan benda, dan kepanikan warga yang melihat kejadian tersebut memenuhi sepanjang jalan, menciptakan suasana yang sangat mencekam dan tidak kondusif.

Tidak berhenti di lokasi jalan raya saja, perselisihan ini semakin meluas ketika ratusan pengemudi ojek daring tersebut bergerak masuk ke dalam area lingkungan kampus Universitas Muslim Indonesia. Mereka berusaha mengejar dan mencari keberadaan para demonstran yang dianggap sebagai penyebab utama terganggunya aktivitas mereka. Tindakan ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran tersendiri, mengingat kampus merupakan tempat menuntut ilmu yang seharusnya menjadi ruang yang aman dan damai.

Kedua belah pihak sama-sama bersikeras dengan pendapat dan alasannya masing-masing. Mahasiswa berpendapat bahwa aksi yang mereka lakukan merupakan hak konstitusional yang dijamin undang-undang untuk menyampaikan pendapat dan mengenang sejarah, serta bertujuan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Sementara itu, para pengemudi ojek daring berpendapat bahwa cara yang dilakukan oleh para mahasiswa terlalu mengganggu hak orang lain, mengganggu ketertiban umum, dan berdampak langsung pada penghidupan mereka serta masyarakat luas yang tidak bersalah.

Akibat dari bentrokan yang terjadi ini, sejumlah kerusakan dilaporkan terjadi, baik pada fasilitas umum di sekitar lokasi kejadian maupun fasilitas yang ada di lingkungan kampus. Belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban luka-luka dari kedua pihak, namun diperkirakan ada sejumlah orang yang mengalami cedera ringan hingga sedang akibat terlibat dalam pertikaian tersebut. Lalu lintas di ruas jalan yang bersangkutan pun sempat terhenti total dalam waktu yang cukup lama, sehingga menimbulkan kemacetan yang menjalar hingga ke wilayah-wilayah sekitarnya.

Pihak kepolisian yang mendapat laporan mengenai kerusuhan ini segera mendatangi lokasi kejadian dengan jumlah personel yang cukup untuk memisahkan kedua kelompok yang bertikai. Melalui pendekatan dan pengamanan yang ketat, aparat keamanan akhirnya berhasil menenangkan suasana dan memisahkan kedua pihak agar tidak terjadi pertikaian yang lebih parah. Saat ini, proses penyelidikan masih dilakukan untuk mengetahui secara jelas kronologi kejadian, penyebab utama, serta pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan dan gangguan yang terjadi.

Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh elemen masyarakat, bahwa setiap kegiatan yang dilakukan, baik itu aksi penyampaian aspirasi maupun aktivitas sehari-hari, harus tetap mempertimbangkan hak dan kepentingan orang lain. Mengenang sejarah dan menyampaikan pendapat adalah hak yang sah, namun hal tersebut harus dilakukan dengan cara-cara yang tertib, damai, dan tidak mengganggu ketertiban umum serta kepentingan masyarakat luas.

Di sisi lain, kemarahan akibat kerugian yang ditimbulkan juga tidak seharusnya disalurkan dengan cara kekerasan yang justru akan menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi semua pihak. Semoga peristiwa ini menjadi titik tolak untuk meningkatkan kesadaran bersama, sehingga perselisihan yang terjadi ke depannya dapat diselesaikan dengan cara musyawarah dan dialog yang baik demi terciptanya ketertiban dan kedamaian bersama.

Sumber: Rekaman video kejadian, keterangan saksi mata, dan laporan lapangan.

 

#tandaglobalnews#Makassar #Bentrokan #Mahasiswa #Ojol #UMI #AksiDemonstrasi #KetertibanUmum #BeritaTerkini #CelahID

Tinggalkan Komentar

Lebih baru Lebih lama