TandaGlobalNews | JAKARTA,27 April 2026 – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin, menyampaikan kabar baik terkait kondisi kemiskinan di Indonesia. Menurut data terbaru, angka kemiskinan ekstrem berhasil turun signifikan, dengan sekitar 1,36 juta jiwa berhasil "naik kelas" atau keluar dari kategori miskin ekstrem.
Hal tersebut disampaikan Cak Imin dalam Rapat Tingkat Menteri Evaluasi Pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025, yang digelar di Plaza BP Jamsostek, Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026).
Cak Imin menjelaskan bahwa persentase penduduk miskin ekstrem turun dari 1,26 persen pada Maret 2024 menjadi 0,78 persen pada September 2025. Penurunan sebesar 0,48 persen poin ini setara dengan berkurangnya jumlah penduduk miskin ekstrem dari 3,56 juta jiwa menjadi 2,2 juta jiwa.
"Alhamdulillah, kemiskinan ekstrem berhasil turun dari 1,26 persen pada Maret 2024 menjadi 0,78 persen pada September 2025. Artinya, sekitar 0,48 persen penduduk miskin ekstrem telah naik kelas. Ini capaian yang patut kita syukuri bersama," ujar Cak Imin.
Secara absolut, hal ini berarti sebanyak 1,36 juta orang yang sebelumnya tergolong miskin ekstrem kini telah berhasil meningkatkan status ekonominya.
Keberhasilan penurunan angka kemiskinan ini tidak lepas dari berbagai program strategis yang dijalankan secara paralel, baik di bidang perlindungan sosial maupun pemberdayaan ekonomi.
Menurut Cak Imin, sejumlah program yang dinilai sangat berdampak antara lain:
Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Telah menjangkau 60,2 juta penerima manfaat.
Bantuan Sosial: Sudah menyentuh 8,56 juta keluarga miskin atau sekitar 93,6 persen dari total sasaran.
Program Padat Karya: Telah melibatkan sekitar 2 juta orang.
Akses Permodalan: Sebanyak 2 juta debitur baru di sektor UMKM telah mendapatkan akses pembiayaan.
Penempatan Pekerja Migran: Sebanyak 111 ribu pekerja migran telah difasilitasi penempatannya.
Reformasi Agraria: Sebanyak 28 ribu keluarga mendapatkan pendampingan dan akses tanah.
Pendidikan: Program pendidikan menjangkau 61,9 juta penduduk, termasuk operasional 166 Sekolah Rakyat yang menampung 14.963 siswa dari keluarga kurang mampu.
Dalam mencapai capaian ini, pemerintah mengalokasikan anggaran dari APBN sebesar Rp503,2 triliun, ditambah dukungan dari APBD sebesar Rp129 triliun.
Capaian ini menjadi modal penting dalam upaya pemerintah mencapai target yang ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto
1. Menghapus kemiskinan ekstrem hingga 0% pada tahun 2026.
2. Menurunkan tingkat kemiskinan nasional menjadi maksimal 5% pada tahun 2029.
"Kita akan terus bekerja keras untuk mencapai target 0 persen pada tahun 2026 dan maksimal 5% pada tahun 2029. Ini membutuhkan kerja bersama, konsistensi, dan fokus pada hasil nyata," tegas Cak Imin.
Meski capaian ini membanggakan, Cak Imin mengakui bahwa masih terdapat tantangan dan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama karena waktu yang tersisa untuk mencapai target nol persen pada akhir 2026 dinilai sangat sempit.
Masih terdapat lebih dari 774 ribu keluarga pada kelompok berpenghasilan terendah (desil 1) yang belum tersentuh program.
Sekitar 8,1 persen keluarga belum menerima bantuan sama sekali.
Sebanyak 60,2 persen keluarga desil 1 baru menerima satu hingga dua jenis program, sehingga perlu ditingkatkan cakupannya.
Terdapat wilayah-wilayah tertentu yang masih menjadi kantong kemiskinan, seperti di Kulonprogo, Garut, Bogor, Cirebon, dan Cianjur.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah akan memfokuskan intervensi di 16.550 desa/kelurahan prioritas sesuai dengan Kepmenko Pemberdayaan Masyarakat No.6 Tahun 2026. Strategi yang akan ditempuh meliputi peningkatan pendapatan masyarakat, pengurangan beban pengeluaran rumah tangga, serta penghapusan kantong-kantong kemiskinan secara menyeluruh.
Sumber: Diolah dari berbagai media nasional termasuk ANTARA News, CNN Indonesia, detikNews, dan VOI.
#tandaglobalnews#KemiskinanEkstrem #CakImin #MuhaiminIskandar #Pemerintah #PemberdayaanMasyarakat #Target2026

Posting Komentar