DAMPAK KEBIJAKAN IMIGRASI: Peringkat Universitas Australia, Kanada, dan Belanda Merosot

 


TandaGlobalnews JAKARTA – Fenomena menarik namun cukup mengkhawatirkan tengah terjadi dalam dunia pendidikan tinggi global. Beberapa negara yang selama ini menjadi tujuan favorit para mahasiswa internasional, kini justru mengalami penurunan peringkat dalam daftar universitas paling global di dunia versi tahun 2026.

Kondisi ini diperkirakan sangat berkaitan dengan diterapkannya kebijakan imigrasi yang semakin ketat terhadap mahasiswa asing di negara-negara tersebut.

Dilansir dari rilis terbaru Times Higher Education (THE), tercatat bahwa mayoritas universitas unggulan di tiga negara besar, yaitu Australia, Kanada, dan Belanda, mengalami penurunan posisi dalam International Ranking 2026.

Pemeringkatan ini bukan sekadar penilaian biasa, melainkan mengukur secara komprehensif tingkat internasionalisasi sebuah kampus. Indikator penilaian meliputi:

- Proporsi mahasiswa internasional.

- Jumlah staf dan dosen asal luar negeri.

- Tingkat kolaborasi riset lintas negara.

- Serta reputasi kampus di mata dunia internasional.

Yang menjadi sorotan utama adalah fakta bahwa penurunan ini mulai terlihat bahkan sebelum dampak penuh dari kebijakan pembatasan tersebut benar-benar terasa secara maksimal dalam data statistik.

Berdasarkan data yang dirilis, Australia mencatatkan penurunan yang paling signifikan dibanding negara lainnya. Sebanyak lima dari enam universitas terbaik di Negeri Kangguru ini tercatat turun peringkatnya pada tahun 2026 ini.

Posisi Australia disusul oleh Kanada, di mana sekitar 75 persen dari total kampus yang dinilai mengalami kemerosotan posisi. Sementara itu, Belanda juga tidak luput dari dampak ini, dengan tercatatnya 60 persen universitas di negara tersebut yang harus turun tangga dalam daftar peringkat global.

Tidak bisa dipungkiri bahwa ketiga negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir gencar menerapkan kebijakan yang bertujuan membatasi arus masuk mahasiswa asing.

- Kanada diketahui telah memberlakukan pembatasan kuota pada penerbitan visa pelajar mulai tahun 2024.

- Australia mengambil langkah serupa dengan menerapkan batasan jumlah pendaftaran bagi warga negara asing.

- Sementara Belanda juga memperkenalkan berbagai regulasi baru untuk menekan jumlah mahasiswa internasional di kampus-kampusnya.

Peneliti data dari Times Higher Education, Cathy Tushabe, menegaskan bahwa waktu terjadinya penurunan skor ini sangat bertepatan dengan diterapkannya aturan-aturan baru tersebut.

"Kendati hubungan sebab akibat tidak dapat dipastikan sepenuhnya secara mutlak, waktunya memang bertepatan dengan perubahan kebijakan yang memengaruhi arus mahasiswa internasional di Australia, Kanada, dan Belanda," ujar Cathy dalam keterangannya.

Penurunan ini dinilai bukan hanya soal angka statistik, melainkan berdampak luas pada ekosistem kampus, mulai dari berkurangnya keragaman budaya, melemahnya reputasi merek kampus, hingga menurunnya intensitas kolaborasi riset global.

Pakar dan peneliti pendidikan tinggi internasional, Nigel Healey, memberikan pandangan mendalam terkait fenomena ini. Menurutnya, kebijakan imigrasi yang tertutup atau ketat memiliki efek domino yang negatif terhadap performa universitas.

"Rezim imigrasi yang kurang ramah secara langsung dan negatif memengaruhi semua indikator internasional: proporsi mahasiswa dan staf internasional, serta kolaborasi riset internasional," jelas Healey.

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa semakin terbatasnya interaksi dan kolaborasi lintas batas negara dapat menurunkan kualitas hasil penelitian. Hal ini dikarenakan publikasi yang melibatkan peneliti dari berbagai negara biasanya memiliki tingkat kepercayaan dan sitasi (kutipan) yang jauh lebih tinggi dibandingkan riset yang bersifat lokal atau tertutup.

Menariknya, meskipun juga dikenal telah memperketat aturan visa dan imigrasi dalam beberapa waktu terakhir, negara Inggris justru relatif mampu mempertahankan posisi dominannya di peta pendidikan dunia.

Data menunjukkan hanya sekitar 41 persen universitas di Inggris yang mengalami penurunan peringkat, angka ini jauh lebih baik dibandingkan ketiga negara sebelumnya. Bahkan, sejumlah kampus elite justru berhasil menaikkan posisi mereka

Sebut saja Imperial College London yang kini berhasil menembus posisi keempat dunia. Disusul oleh University of Oxford di urutan kelima dan University of Cambridge yang berada di posisi ketujuh.

Menurut analisis Nigel Healey, ketangguhan universitas-universitas top Inggris ini disebabkan oleh reputasi global mereka yang sudah sangat kuat dan melegenda, sehingga tetap mampu menjadi magnet yang menarik mahasiswa-mahasiswa terbaik dari seluruh dunia meski aturan imigrasi sedang ketat-ketatnya.

Fenomena yang terjadi pada tahun 2026 ini memberikan pelajaran berharga bahwa kebijakan imigrasi memiliki peran yang sangat krusial dan strategis.

Keterbukaan sebuah negara terhadap talenta global terbukti berbanding lurus dengan daya saing dan reputasi institusi pendidikannya. Semakin ramah suatu negara menyambut mahasiswa asing, semakin besar peluang universitas di dalamnya untuk tetap bersinar dan menjadi pusat keunggulan

Laporan ini disusun berdasarkan data dan analisis dari Times Higher Education (THE).

Tinggalkan Komentar

Lebih baru Lebih lama