Tragedi di Kolam Renang Lodaya, Siswi Kelas 1 SDIT Alam Bina Insani Tutup Usia

 TANDAGLOBALNEWS | PEMALANG – Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan di wilayah Randudongkal, Pemalang. Seorang siswi sekolah dasar berinisial SDW (7), yang diketahui duduk di bangku kelas 1A SDIT Alam Bina Insani Randudongkal, mengembuskan napas terakhir setelah mengalami insiden tragis di kolam renang desa Lodaya pada Minggu (3/5/2026).

Insiden yang terjadi di hari libur tersebut menyita perhatian publik setelah video proses evakuasi korban beredar luas di jejaring pesan singkat. Peristiwa ini memicu diskusi mendalam mengenai standar keamanan kolam renang umum serta pengawasan terhadap anak-anak dalam kegiatan ekstrakurikuler atau kursus keterampilan air.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari saksi mata di lokasi kejadian, peristiwa bermula saat korban sedang mengikuti kegiatan les renang. Kondisi kolam renang pada hari Minggu terpantau cukup ramai oleh pengunjung lokal.

Sekitar pukul [Waktu Kejadian], sejumlah saksi melihat adanya kepanikan di salah satu sudut kolam. Korban ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di dalam air. Beberapa warga dan pengunjung segera terjun untuk mengevakuasi korban ke tepi kolam.

"Sempat dilakukan upaya pertolongan pertama di lokasi sebelum petugas medis datang," ujar salah satu pengunjung yang berada di lokasi. Korban kemudian segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan bantuan medis darurat. Namun, setelah menjalani upaya resusitasi dan perawatan intensif, tim medis menyatakan korban telah meninggal dunia.

Pihak SDIT Alam Bina Insani Randudongkal secara resmi mengonfirmasi kabar duka tersebut melalui unggahan bela sungkawa. Dalam pernyataan resminya, pihak sekolah merasa sangat kehilangan atas sosok SDW yang dikenal sebagai siswi yang ceria.

"Keluarga besar SDIT Alam Bina Insani Randudongkal turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepulangan ananda Syakira Disa Widodo. Semoga ananda husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta kesabaran," tulis pernyataan resmi sekolah dalam poster duka yang beredar.

Hingga saat ini, pihak sekolah belum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai apakah kegiatan les renang tersebut merupakan agenda resmi sekolah atau merupakan kursus privat mandiri yang diikuti oleh korban di luar jam akademik.

Hingga laporan ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian setempat terkait hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) maupun penyebab pasti tenggelamnya korban—apakah karena faktor kelelahan, kram, atau kurangnya pengawasan dari instruktur renang yang bertugas.

Insiden ini menambah daftar panjang kecelakaan air yang melibatkan anak di bawah umur di lokasi wisata. Para ahli keselamatan publik menekankan pentingnya rasio antara jumlah penjaga kolam (lifeguard) dengan jumlah pengunjung, terutama pada jam-jam sibuk seperti hari libur nasional atau akhir pekan.

Pihak berwenang dan tokoh masyarakat mengimbau kepada seluruh orang tua untuk tidak lengah saat mendampingi anak-anak di area wisata air, meski anak tersebut sedang dalam pengawasan instruktur renang. Pengelola kolam renang juga diminta untuk mengevaluasi kembali standar operasional prosedur (SOP) keselamatan, termasuk ketersediaan alat penyelamatan dan tenaga medis pertolongan pertama yang bersertifikat.

Jenazah korban telah disemayamkan di rumah duka dan rencananya akan dimakamkan di tempat pemakaman keluarga setempat. Kasus ini kini menjadi pengingat pahit akan pentingnya kewaspadaan ekstra demi keselamatan buah hati.

Editor : TandaGlobalnews

Tinggalkan Komentar

Lebih baru Lebih lama