Prospek Baru Hewan Kurban, Peternakan Unta Milik Faisal Effendi di Ngoro Mulai Dilirik

 TANDAGLOBALNEWSMOJOKERTO – Menjelang perayaan Idul Adha 1447 H yang jatuh pada Mei 2026, sebuah inovasi peternakan di Kabupaten Mojokerto menjadi pusat perhatian. Bukan sapi atau kambing biasa, sebuah peternakan di wilayah Ngoro sukses membudidayakan unta sebagai alternatif hewan kurban masa depan.

Inovasi ini dipelopori oleh Berkah Wafa Farm yang berlokasi di Dusun Dateng, Desa Watesnegoro, Kecamatan Ngoro. Peternakan milik Faisal Effendi ini menjadi salah satu dari sedikit tempat di Jawa Timur yang berhasil melakukan adaptasi mamalia padang pasir tersebut di iklim tropis.

Unta-unta tersebut awalnya didatangkan dari Australia pada tahun 2025. Dari total populasi awal sebanyak 32 ekor, sebagian besar telah didistribusikan ke berbagai lembaga konservasi dan kebun binatang di Bali serta Jawa Barat. Saat ini, terdapat sekitar 6 ekor unta yang difokuskan untuk proses breeding atau pengembangbiakan.

Faisal Effendi menjelaskan bahwa unta dipilih karena memiliki daya tahan yang luar biasa. Berbeda dengan sapi yang rentan terhadap wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) atau Lumpy Skin Disease (LSD), unta cenderung lebih kuat dan minim risiko kematian akibat virus musiman.

“Perawatan unta saya kira lebih praktis ya, lebih gampang. Karena makannya juga gampang, terus pertumbuhannya memang agak lama ya, tapi lebih mudah kok. Kalau daripada sapi lebih kuat unta. Kalau sapi kan ada gampang kembung, terus gampang kena ya semacam panas, cuaca, perubahan cuaca juga dia gampang sakit.” – Faizal Efendi, Peternak Unta

Untuk memastikan kesehatan hewan, Faisal Effendi menerapkan pola perawatan yang menggabungkan metode alam dan teknologi:

  1. Pakan Lokal: Unta dibiasakan mengonsumsi rumput lapangan dan dedaunan yang tumbuh di area persawahan Ngoro agar sistem pencernaannya beradaptasi dengan vegetasi lokal.

  2. Kandang Pasir: Meskipun berada di daerah yang cukup lembap, kandang unta tetap dilengkapi dengan gundukan pasir khusus untuk memenuhi insting alami mereka melakukan "mandi pasir" guna menjaga kebersihan kulit.

  3. Latihan Fisik: Secara rutin, unta-unta ini dilepasliarkan di lahan terbuka untuk menjaga kebugaran fisik dan meminimalisir stres.

Meski animo masyarakat untuk berkurban unta sangat tinggi, Faisal Effendi menyatakan bahwa untuk tahun 2026 ini, unta yang ada belum dilepas ke pasar kurban.

"Kami fokus pada edukasi dan pengembangan terlebih dahulu. Secara syariat, unta untuk kurban minimal harus berusia lima tahun. Saat ini, koleksi kami masih dipersiapkan untuk mencapai usia tersebut agar sah secara hukum agama," ujar Faisal Effendi.

Saat ini, lokasi milik Faisal Effendi justru menjadi destinasi wisata edukasi dadakan bagi warga sekitar yang ingin melihat unta dari dekat tanpa harus ke luar negeri. Sementara untuk kebutuhan kurban tahun ini, ia tetap menyediakan stok sapi jenis Simental, Limosin, hingga Kerbau yang sudah mulai dipesan oleh konsumen dari berbagai daerah.

Kehadiran budidaya unta yang dijalankan Faisal Effendi ini diharapkan dapat mengangkat potensi ekonomi di wilayah Ngoro, sekaligus memberikan referensi baru bagi para peternak lokal bahwa hewan dari wilayah sub-tropis atau padang pasir memiliki peluang ekonomi yang tinggi jika dikelola dengan manajemen yang tepat.


Editor: Admin TandaGlobalNews

Tinggalkan Komentar

Lebih baru Lebih lama