Tandaglobalnews- 21 mei 2026 Di bawah terik matahari
dan di tengah padatnya lalu lintas, tampak seorang nenek berusia lanjut
berjalan tertatih sembari memikul beban dagangan. Di punggungnya, ia
menggendong seorang anak kecil yang selalu menemaninya ke mana pun ia pergi.
Itulah Mak Yati (75 tahun), seorang nenek yang di usia senjanya harus tetap
berjuang keras mencari nafkah sekaligus merawat dan membesarkan seorang anak
berkebutuhan khusus. Anak itu bukanlah cucu kandungnya, melainkan anak angkat
yang telah dibuang oleh orang tuanya sejak masih bayi.
Perjuangan hidup Mak Yati sungguh tidak ringan. Di saat
orang seusianya seharusnya beristirahat menikmati masa tua, beliau justru harus
menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap harinya dengan berjalan kaki,
menjajakan asongan dari satu tempat ke tempat lain. Dan dalam setiap langkahnya
itu, Annisa (6 tahun), anak yang dirawatnya, selalu dibawa serta, digendong
atau dipangku dengan penuh kelembutan.
Ketika ditanya siapa anak kecil yang senantiasa berada dalam
pelukannya itu, Mak Yati menjawab dengan nada ikhlas namun menyentuh hati, “Ini
anak yang kuangkat, sudah kuurus sejak masih bayi. Ia dibuang oleh orang tuanya
sendiri.”
Annisa adalah anak yang bernasib malang. Ia hampir tak
pernah mengetahui siapa asal-usul orang tuanya. Saat usianya baru menginjak
lima hari, bayi mungil ini ditinggalkan begitu saja di depan teras rumah warga.
Saat itu, banyak orang yang diberi tawaran untuk merawat Annisa, namun tak ada
satu pun yang bersedia menerimanya.
“Dulu Annisa pernah ditawarkan ke banyak orang, tapi tidak
ada yang mau merawatnya. Mungkin karena mereka sudah tahu kalau Nisa memiliki
kelainan fisik; kakinya tidak sama panjang dan ada bagian yang bengkak. Karena
tak ada yang mau menerima, akhirnya akulah yang berinisiatif merawat dan
menyayanginya layaknya anak kandungku sendiri,” ujar Mak Yati mengenang awal
pertemuan mereka.
Sudah enam tahun berlalu sejak hari itu. Selama kurun waktu
tersebut, Mak Yati merawat, membesarkan, dan mencurahkan kasih sayang sepenuh
hati kepada Annisa, persis seperti anak atau cucu sendiri. Ke mana pun beliau
melangkah, entah bekerja di ladang atau pergi berjualan mencari makan, Annisa
tak pernah lepas dari sisi nenek renta ini. Bahkan di saat fisik Mak Yati makin
melemah, tenaganya makin berkurang, dan langkah kakinya makin berat, beliau tak
pernah sekalipun berniat menelantarkan anak yang kini menjadi tanggung jawabnya
itu.
Setiap hari, Mak Yati harus berjalan jauh menyusuri jalanan
demi menawarkan dagangannya. Sering kali beliau harus menerima penolakan dari
orang-orang yang dijumpainya. Mulai dari pagi hingga tengah siang yang panas,
setelah berjuang melawan rasa lelah dan dahaga, penghasilan yang diterima pun
sangatlah sedikit. Dalam sehari, uang yang didapatkan Mak Yati kadang hanya
berkisar 8.000 rupiah saja. Meski begitu, beliau enggan pulang sebelum
mendapatkan penghasilan tambahan sedikit lagi, demi bisa membeli beras untuk
dimasak dan dimakan bersama Annisa di rumah sederhana mereka.
Beban berat yang dipikul Mak Yati bukan hanya berupa barang
dagangan, melainkan juga beban hidup dan tanggung jawab membesarkan anak
berkebutuhan khusus. Namun, tak sekalipun terlihat raut penyesalan atau keluhan
di wajah tuanya. Di balik lelahnya, masih tersungging senyum tulus yang menjadi
semangat terbesar baginya untuk terus melangkah, demi satu-satunya alasan
hidupnya saat ini: Annisa, anak angkat yang kini menjadi bagian tak terpisahkan
dari hidupnya.
Kisah Mak Yati dan Annisa menjadi bukti nyata ketulusan hati
seorang manusia, di mana kasih sayang tak pernah mengenal hubungan darah, batas
usia, maupun keterbatasan fisik. Di tengah kerasnya kehidupan, cinta dan
pengorbanan Mak Yati menjadi pelajaran berharga tentang keikhlasan dan
kepedulian antar sesama.
✍️ Sumber: Folkshiff
#tandaglobalnews#KisahInspiratif #MakYati #AnakDifabel
#KasihSayangTanpaBatas #PerjuanganHidup #Kemanusiaan #BeritaMenyentuhHati
#PeduliSesama #Folkshiff

Posting Komentar