Tandaglobalnews GARUT – Video yang memperlihatkan
sejumlah siswi SMKN 2 Garut menangis histeris usai rambutnya dipotong secara
paksa oleh guru Bimbingan Konseling (BK) viral di media sosial. Kejadian ini
memicu kemarahan publik dan perhatian langsung dari Gubernur Jawa Barat, Dedi
Mulyadi.
Insiden terjadi pada Kamis, 30 April 2026, setelah para
siswi selesai mengikuti pelajaran olahraga dan kembali ke kelas. Seorang guru
BK masuk membawa gunting dan langsung melakukan razia penampilan.
Guru tersebut meminta siswi yang berhijab untuk membuka
kerudungnya. Setelah diketahui ada yang mewarnai rambut, rambut mereka langsung
dipotong di tempat dengan potongan yang cukup signifikan, meskipun selama di
sekolah rambut tersebut tertutup rapat oleh hijab.
Dalam video yang beredar, terlihat para siswi tampak syok
dan menangis keras sambil memperlihatkan potongan rambut mereka yang tidak
rata.
Kepala SMKN 2 Garut, Nur Al Purqon, membenarkan kejadian
tersebut. Ia menyebut tindakan itu dilakukan karena adanya akumulasi laporan
dari wali kelas dan masyarakat yang mengeluhkan penampilan siswi yang dinilai
tidak sesuai aturan sekolah.
Namun, kuasa hukum para siswi, Asep Muhidin, menilai
tindakan tersebut sangat berlebihan dan tidak etis. Menurutnya, seharusnya
sekolah berkomunikasi terlebih dahulu dengan orang tua dan tidak perlu
melakukan tindakan fisik seperti memotong rambut secara paksa.
"Memotong rambut secara paksa, apalagi tanpa komunikasi
terlebih dahulu kepada orang tua dan tanpa persetujuan siswi, adalah bentuk
kekerasan simbolik dan fisik," tegas Asep.
Akibat kejadian ini, sebagian siswi dilaporkan mengalami
trauma dan enggan berangkat sekolah. Sebagian orang tua bahkan meminta oknum
guru tersebut dipindahkan dari sekolah.
Merespons polemik ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi
langsung memanggil guru BK dan perwakilan siswi untuk dimintai keterangan. Dedi
menegur keras tindakan yang dianggap tidak proporsional tersebut.
Ia menilai jika ada masalah penampilan, cukup dilakukan
dengan cara persuasif atau pemberitahuan kepada orang tua, bukan dengan sanksi
fisik yang menyakiti hati siswa, apalagi mereka memiliki catatan akademik yang
baik.
Sementara itu, guru BK yang terlibat mengakui kesalahannya
dan menyebut saat kejadian kondisi psikologisnya sedang tidak stabil sehingga
emosinya tidak terkendali.
Sumber Berita: detiknews
#SMKN2Garut #RambutDipotongPaksa
#GuruBK #Viral #Pendidikan #DediMulyadi #Garut #TandaGlobalNews

Posting Komentar